TUMBUH
KEMBANG NEONATUS
Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Keperawatan Anak
Disusun
Oleh : Kelompok 1
Ari Purwaningsih
Husniyati
Lutfiyah
Irma Budi
Lestari
Siti Nurjanah
Kelas
: 1 C
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH JAKARTA
FAKULTAS
ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM S1 TRANSFER
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum.
Wr. Wb
Puji
syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas
limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah keperawatan
Anak tentang ”Tumbuh Kembang Neonatus” sesuai waktu yang telah ditentukan.
Shalawat serta salam tetap tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,
beserta sahabat dan para pengikutnya.
Dalam kesempatan ini, penulis
mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan oleh berbagai pihak,
baik moril maupun materil dalam proses pembuatan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran ataupun kritik yang membangun,
sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga apa yang
disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Aamiin.
Wassalamu’alaikum.
Wr. Wb
Jakarta, 26 September
2017
Penyusun
Kelompok 1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
................................................................................................ i
DAFTAR ISI
............................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
.......................................................................................... 1
A.
Latar
Belakang .................................................................................................. 1
B.
Rumusan
Masalah ............................................................................................. 1
C.
Tujuan
............................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN TEORI ..................................................................................... 3
A.
Konsep
Tumbuh Kembang Neonatus ............................................................... 3
1.
Definisi
Neonatus dan Tumbuh Kembang ................................................. 3
2.
Pertumbuhan
Fisik ...................................................................................... 3
3.
Maturasi
Sistem Organ ............................................................................... 5
4.
Perkembangan
Neonatus .......................................................................... 10
5.
Masa
Neonatus ......................................................................................... 13
6.
Faktor
bayi baru lahir resiko tinggi ........................................................... 15
B.
Asuhan
Keperawatan Bayi Baru Lahir ........................................................... 19
1.
Pengkajian.................................................................................................. 19
2.
Diagnosa
dan Perencanaan Keperawatan ................................................. 26
3.
Promosi
Kesehatan pada keluarga dengan perkembangan Neonatus........ 28
BAB III PENUTUP .................................................................................................. 31
A.
Simpulan
......................................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 32
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada beberapa jam setelah bayi dilahirkan atau beberapa hari setelah
dilahirkan, perubahan fisiologis yang hebat yang penting bagi kesehatan dan
ketahanan hidup, terjadi pada bayi baru lahir. Selain perubahan fisiologis bayi
tersebut, bayi baru lahir harus beradaptasi dengan bermacam-macam cara
yang berbeda terhadap lingkungan yang benar-benar baru meliputi : Pernapasan,
Sirkulasi darah , System imun, Pengaturan suhu-metabolisme, Sistem neurologis,
System gastrointestinal, Fungsi ginjal dan sekresi urine, Fungsi hati.
Oleh karena itu, pengetahuan tentang dasar fisiologis dan tumbuh kembang
untuk melakukan pengkajian lengkap bayi baru lahir selama jam-jam dan hari-hari
pertama setelah dilahirkan sangatlaah penting. Memahami tumbuh kembang pada
Neonatus atau bayi baru lahir sangatlah penting mengingat setiap neonatus
memiliki karakteristik yang berbeda- beda satu dengan yang lainnya. Suatu
pengkajian yang lengkap akan mencakup beberapa area yang berbeda yang mungkin
saling tumpang tindih. Area tersebut meliputi fisik, neurologis, usia gestasi,
dan pengkajian perilaku. Pengkajian fisik yang sering, harus dilakukan ketika
bayi dirawat di rumah sakit atau di rumah bersalin. Hal ini penting
dilakukan untuk menentukan apakah dan seberapa baik bayi baru lahir dapat
mengatasi transisi fisiologis dari kehidupan intrauterus dan kehidupan
ekstrauterus. Selain itu, pengkajian neurologis, usia gestasi, dan perilaku
harus dilakukan sebelum bayi bari lahir pulang dari rumah sakit sehingga
berbagai masalah actual dan potensial pada area-area tersebut dapat ditemukan
sedini mungkin dalam kehidupan bayi baru lahir (Reeder S. J., 2011, hlm: 71).
B.
Rumusan
Masalah
Bagaimana
tumbuh kembang neonatus, pengkajian bayi baru lahir dan pencegahan masalah
kesehatan pada neonatus ?
C.
Tujuan
Tujuan
dari pembuatan makalah ini yaitu :
1. Agar
mahasiswa/i mengetahui dan memahami pengertian Neonatus
2. Diharapkan
agar mahasiswa/i memahami konsep tumbuh kembang pada Neonatus
3. Agar mahasiswa/i mampu melakukan pengkajian pada Neonatus
4.
Agar
mahasiwa/i mampu merumuskan diagnose keperawatan pada Neonatus
5.
Agar
mahasiswa/i mampu menyusun rencana keperawatan pada Neonatus
6.
Agar
mahasiswa/i mampu melakukan
implementasi keperawatan pada Neonatus
Pada tahap akhir
diharapkan agar mahasiswa/i dapat mengevaluasi dari tindakan yang telah
dilakukan
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Tumbuh Kembang Neonatus
1.
Definisi
Neonatal dan Tumbuh Kembang
Periode
bayi baru lahir atau neonatal pada masa sejak lahir sampai usia 28 hari.
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses berkelanjutan yang saling terkait
di masa bayi dan kanak-kanak (Kyle, 2014). Bayi baru
lahir adalah bayi yang pada usia kehamilan 37-42 minggu dan berat badan
2.500-4.000 gram (Vivian, N. L. D, 2010).
Pertumbuhan merupakan peningkatan ukuran fisik. Perkembangan
adalah rangkaian proses ketika bayi dan anak mengalami peningkatan berbagai
keterampilan dan fungsi (Kyle, 2014). Hereditas memengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan dengan menentukan potensi anak, sementara lingkungan berkontribusi
terhadap derajar pencapaian. Maturasi adalah peningkatan fungsi berbagai
sistem tubuh atau keterampilan perkembangan.
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan
jumlah sel serta jaringan interseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan
struktur tubuh sebagian sehingga dapat diukur dengan satuan panjang
dan berat (Kemenkes R.I, 2012).
Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih
kompleks dalam kemampuan gerak kasar dan gerak halus, bicara dan bahasa, serta
sosialisasi dan kemandirian (Kemenkes R.I, 2012).
2.
Pertumbuhan
Fisik
Bayi baru lahir mengalami
perubahan fisiologis yang sangat hebat. Perubahan yang kompleks ini harus
terjadi pada jangka waktu yang tepat bagi bayi baru lahir untuk dapat bertahan
hidup dan berkembang secara normal. Bayi baru lahir harus melewati
beberapa fase selama beradaptasi dengan kehidupan di luar uterus. Pengkajian
pertumbuhan secara berkelanjutan sangat penting sehingga pertumbuhan yang cepat
atau yang tidak adekuat dapat diidentifikasi sejak dini. Bayi tumbuh dengan sangat cepat dalam usia 12 bulan
pertama. Berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala dan dada merupakan
indikator pertumbuhan fisik pada bayi baru lahir.
|
Rata – Rata Ukuran Bayi Saat Lahir
Serta Usia 6 dan 12 Bulan
|
|||
|
Usia
|
Berat badan
|
Panjang/tinggi badan
|
Lingkar kepala
|
|
Lahir
|
3,4 kg
|
48-53 cm
|
33-35 cm
|
|
6 bulan
|
7,3 kg
|
63,5-68,5 cm
|
42-44,5 cm
|
|
12 bulan
|
10,5 kg
|
71,76 cm
|
45-47,5 cm
|
|
Diadaptasi
dari Hagan, J.F., Shaw & Duncan, P.M (Eds). (2008). Bright futures:
Guidelines for health supervision of infant, children, and adolescents (3rd
ed., rev). elk village: American academic of pediatrics
|
|||
a. Berat badan
Kisaran berat badan bayi baru lahir adalah 3,4 kg
saat lahir. Bayi baru lahir kehilangan 10% dari berat tubuhnya dalam usia 5
hari pertama. Rata-rata bayi baru lahir kemudian bertambah berat badannya
sekitar 20-30 g perhari dan mendapatkan berat badan yang sama seperti saat
lahir pada usia 10-14 hari. Sebagian besar berat badan bayi bertambah menjadi
dua kali lipat dari berat lahirnya pada usia 4-6 bulan dan bertambah menjadi
tiga kali lipat dari berat lahir pada usia 1 tahun (Hagan, Shaw & Duncan,
2008)
b. Panjang badan
Panjang rata-rata bayi baru lahir adalah 48-53 cm
saat lahir. Selama 6 bulan pertama, panjang meningkat sebesar 2,5 cm perbulan,
kemudian sekitar 0,12 cm perbulan dalam usia 6 bulan kedua (Hagan et al., 2008)
c. Lingkar kepala dan dada
Rata-rata lingkar kepala bayi usia cukup bulan
adalah 33-35 cm. lingkar kepala sekitar 2-3 cm lebih besar dari pada lingkar
dada, yang rata-rata berukuran 30,5-33 cm. lingkar kepala meningkat dengan
cepat selama usia 6 bulan pertama: rata-rata peningkatan sekitar 1,5 cm
perbulan. Lingkar dada tidak diukur secara teratur setelah periode bayi baru
lahir, tetapi ukurannya meningkat saat bayi tumbuh (Hagan et al., 2008).
3.
Maturasi
sistem organ
Sistem organ
bayi baru lahir dan bayi mengalami perubahan yang signifikan saat bayi tumbuh.
Sistem yang mengalami signifikan mencangkup sistem neurologi, sistem
kardiovaskular, sistem pernapasan, sistem pencernaan, sistem ginjal, sistem
hematopoletik, sistem imunologi dan sistem integument.
a. Sistem neurologi
Bayi mengalami perubahan sangat besar dalam sistem
neurologi pada usia satu tahun pertama. Pertumbuhan otak sangat penting.
Pergerakan involunter berkembang menjadi kontrol volunteer, menangis berkembang
menjadi kemampuan untuk berbicara sebagai hasil dari perubahan imatur pada
sistem neurologi.
1) Status kesadaran
Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan yang normal
bergerak secara berurutan melalui status kesadaran, meskipun belum matang,
sudah utuh. Bayi baru lahir yang normal secara berurutan akan melalui enam
status kesadaran:
a) Tidur dalam : bayi
berbaring tenang tanpa bergerak
b) Tidur ringan : bayi
dapat sedikit bergerak saat tertidur dan dapat terkejut karena suara bising
c) Mengantuk : mata dapat
menutup, bayi mungkin tertidur sejenak
d) Status terjaga diam :
mata bayi terbuka lebar dan tubuh tenang
e) Status terjaga aktif :
wajah dan tubuh bayi bergerak secara aktif
f) Menangis : bayi
menangis atau menjerit dan bergerak dengan cara yang tidak teratur (Brazelton
& Nugent, 1995, hlm.15)
Bayi baru lahir
biasanya mengalami perkembangan melalui status ini secara perlahan, dan bukan
secara langsung terbangun dari tidur dalam kemudian menangis.
2) Pertumbuhan otak
Otak mengalami pertumbuhan yang sangat pesat selama
usia 2 tahun pertama kehidupan. Pada usia 6 bulan, berat otak bayi adalah
setengah dari berat otak orang dewasa. Pada usia 12 bulan, otak telah tumbuh
secara bermakna, beratnya 2 ½ kali dari berat otak saat lahir.
Secara umum, sistem neurologi mengalami kematangan
dalam jumlah signifikan dalam tahun pertama kehidupan. Mielinasi medulla
spinalis dan saraf terus berlanjut sampai usia 2 tahun pertama. Kematangan
sistem saraf dan mielinasi lanjutan diperlukan untuk keterampilan perkembangan
yang pesat yang dicapai dalam 12 bulan pertama.
3) Refleks
Refesk primitive bersifat subkortikal dan melibatkan
respons seluruh tubuh. Refleks primitif tertentu yang terdapat saat lahir
terdiri dari refleks moro, root, menghisap, leher tonik, asimetrik, genggaman
plantar dan palmar, melangkah dan Babinski. Refleks primitif menghilang dalam
beberapa bulan pertama kehidupan, memberikan cara untuk refleks protektif.
Refleks protektif (juga disebut respons atau refleks postural) merupakan
respons motorik kasar yang berhubungan dengan pemeliharaan ekuilibrium. Refleks
protektif terdiri dari rekasi righting (menegakkan atau meluruskan kepala) dan
parasut. Keberadaan dan menghilangnya refleks primitif, serta perkembangan
refleks protektif mengidentifikasikan sistem neurologi yang sehat.
Refleks primitif dan protektif tertentu pada masa
bayi
|
Keterangan
|
Usia munculnya refleks
|
Usia menghilangnya refleks
|
|
Refleks primitif
|
||
|
Root: ketika pipi bayi diusap, bayi
bergerak kearah usapan tersebut, mencari dengan mulutnya
|
Saat lahir
|
3 bulan
|
|
Menghisap: menghisap secara refleks ketika
putting atau jari dimasukkan ke dalam mulut bayi
|
Saat lahir
|
2-5 bulan
|
|
Moro: dengan ekstensi kepala mendadak,
lengan mengalami abduksi dan bergerak ke atas dan tangan membentuk huruf “C”
|
Saat lahir
|
4 bulan
|
|
Leher tonik asimetrik: ketika berbaring terlentang,
ekstremitas diekstensikan ke sisi tubuh tempat kepala yang berbaring dan
ekstremitas yang berlawanan difleksikan (disebut sebagai posisi “anggar”)
|
Saat lahir
|
4 bulan
|
|
Ganggaman palmar: bayi secara refleks menggenggam
ketika telapak tangan disentuh
|
Saat lahir
|
4-6 bulan
|
|
Genggaman plantar: bayi secara refleks menggenggam
dengan bagian bawah kaki ketika tekanan diberikan ke permukaan plantar.
|
Saat lahir
|
9 bulan
|
|
Babinski: mengusap di sepanjang area lateral
telapak kaki dan sepanjang permukaan menghasilkan hiperekstensi dan
merekahnya jari kaki
|
Saat lahir
|
12 bulan
|
|
Refleks protektif
|
||
|
Menegakkan leher: leher menjaga kepala tetap berada
dalam posisi tegak lurus ketika tubuh dimiringkan
|
4-6 bulan
|
Menetap
|
|
Parasut (menyamping): ekstensi protektif pada lengan
ketika dimiringkan kesamping dalam posisi duduk yang disangga
|
6 bulan
|
Menetap
|
|
Parasut (kedepan): ekstensi protektif pada lengan
ketika diangkat tinggi ke udara dan diayun ke depan. Bayi secara refleks
mencapai ke depan untuk menangkap diriny sendiri.
|
6-7 bulan
|
Menetap
|
|
Parasut (kebelakang): ekstensi protektif pada lengan
ketika dimiringkan ke belakang
|
9-10 bulan
|
Menetap
|
b. Sistem pernapasan
Sistem pernapasan terus mengalami kematangan dalam
satu tahun pertama. Kecepatan pernapasan melambat dari 30-60 kali permenit pada
bayi baru lahir hingga rata-rata 20-30 kali permenit pada usia 12 bulan. Bayi baru
lahir bernapas secara tidak teratur, dengan jeda berkala. Dibandingkan dengan
orang dewasa. Bayi memiliki:
1) Saluran nasal lebih
sempit
2) Trakea dan dinding dada
lebih lentur
3) Bronkus dan bronkeolus
lebih pendek dan lebih sempit
4) Laring berbentuk lebih seperti
corong
5) Lidah lebih besar
Perubahan anatomis ini menempatkan
bayi pada resiko untuk mengalami gangguan pernapasan. Kurangnya immunoglobulin
A (IgA) dalam lapisan mukosa saluran pernapasan atas juga berkontribusi
terhadap seringnya infeksi di masa bayi.
c. Sistem kardiovaskuler
Ukuran jantung dua kali lebih besar dalam usia satu
tahun pertama. Saat sistem kadiovaskular matang, kisaran kecepatan nadi
berkurang dari 120 kali sampai 140 kali permenit pada bayi baru lahir menjadi
100 kali permenit pada usia 1 tahun pertama. Kapiler perifer lebih dekat ke
permukaan kulit sehingga membuat bayi baru lahir lebih rentan kehilangan panas.
Dalam usia satu tahun pertama, termoregulasi menjadi lebih efektif: kapiler
perifer mengalami kontriksi sebagai respons terhadap lingkungan dingin dan
berdilatasi sebagai respons terhadap panas.
d. Sistem gastrointestinal
Keberadaan gigi neonatal dikaitkan dengan anomali
lahir yang lain. Sebagian besar bayi baru lahir tidak memiliki gigi saat lahir,
juga tidak berbentuk dalam usia satu bulan pertama.
1) Pencernaan
Sistem pencernaan bayi baru lahir belum berkembang
secara utuh. Kapasitas lambung relative lebih kecil saat lahir. Namun pada usia
1 tahun lambung dapat mengakomodasi 3 makanan lengkap dan beberapa makanan
kudapan perhari. Di dalam duodenum, terdapat tiga buah enzim yang penting untuk
pencernaan. Tripsin untuk pencernaan protein setelah bayi lahir. Amilase
(dibutuhkan untuk pencernaan karbohidrat kompleks) dan lipase (esensial untuk
pencernaan lemak yang sesuai).
Liver (hati) juga belum matang saat lahir. Kemampuan
untuk mengonjugasi bilirubin dan menyekresi empedu terjadi pada sekitar usia 2
minggu. Fungsi hati yang lain, mencakup glukoneogenesis, penyimpanan vitamin,
dan metabolisme protein tetap belum matang pada usia 1 tahun pertama.
2) Feses
Feses bayi baru lahir (mekonium) merupakan hasil
dari pencernaan cairan amnion yang ditelan di dalam uterus. Meconium berwarna
hijau tua sampai hitam dan lengket. Dalam usia beberapa hari pertama, feses
menjadi berwarna kekuningan atau coklat. Bayi yang diberikan susu formula
memiliki feses yang konsistensinya seperti mentega kacang. Feses bayi yang di
susui ASI memiliki tekstur lebih encer dan tampak berbiji. Bayi baru lahir
defekasi 8-10 kali sehari atau sedikitnya 1 kali defekasi setiap satu atau dua
hari. Bayi baru lahir seringkali mengerang, menggeliat atau menangis saat
mencoba defekasi (National Association Of Pediatric Nurse Practitioners, 2011).
e. Sistem integumen
Bayi dalam rahim tertutup oleh verniks kaseosa, yang
melindungi kulit bayi yang sedang tumbuh. Saat lahir, bayi dapat ditutupi
dengan verniks (awal usia gestasi) atau verniks dapat ditemukan dilipatan
kulit, aksila dan area selangkangan (usia gestasi lanjut). Produksi verniks
berkurang saat lahir. Rambut halus (lanugo) menutupi tubuh bayi baru lahir.
Akrosianosis (kebiruan pada tangan dan kaki) normal
pada bayi baru lahir; akrosianosis berkurang pada beberapa hari pertama. Kulit
bayi baru lahir relative lebih tipis dari pada kulit orang dewasa.
f. Sistem hematopoietik
Saat lahir hemoglobin janin (HgbF) terdapat dalam
jumlah besar. Setelah lahir produksi hemoglobin janin hampir habis dan
hemoglobin dewasa (HgbA) dihasilkan dalam jumlah yang secara terus menerus
meningkat selama 6 bulan pertama (Glader, 2007).
g. Sistem imunologi
Bayi baru lahir mendapat sejumlah besar IgG melalui
plasenta dari ibu. Ini memberikan imunitas selama 3-6 bulan pertama kehidupan
terhadap antigen yang sebelumnya dipajankan oleh ibu. Bayi kemudian menyintesis
IgG sendiri, yang mencapai sekitar 60% dari kadar orang dewasa diusia 12 bulan
(Harrison, 2009). IgM diproduksi dalam jumlah besar setelah lahir, mencapai
kadar orang dewasa pada usia 9 bulan. Produksi IgA, IgD, dan IgE meningkat
dengan sangat bertahap, yang mencapai kematangan di awal masa kanak-kanak
(Feigin et al., 2009)
4.
Perkembangan
psikososial, motorik, perkembangan sensorik, komunikasi dan bahasa, sosial dan
emosional
a.
Psikososial
Menurut (Keyle, 2015) bayi berada pada periode percaya versus tidak
percaya. Erikson (1963) bayi bergantung sepenuhnya pada orang tua atau pemberi
asuhan. Pemberi asuhan berespon terhadap kebutuhan dasar bayi dengan memberi
makan, mengganti popok, membersihkan dan menyentuh serta berbicara kepada bayi.
Tindakan ini menimbulkan rasa percaya pada bayi. Apabila hal ini diabaikan akan memunculkan rasa
tidak percaya pada bayi. Berikut ini adalah aktivitas yang meningkatkan sensasi percaya di
masa bayi :
|
Ahli teori
|
Tahap
|
Aktivitas
|
|
Psikososial (E.Erikson)
|
Percaya vs tidak percaya (lahir – 1 tahun)
|
Pengasuh berespon terhadap
kebutuhan bayi dengan memberi makan, mengganti popok, membersihkan,
menyentuh, memegang, berbicara dengan bayi. Ini menciptakan sensasi percaya
pada bayi.
Saat sistem saraf
matang, bayi menyadari bahwa mereka adalah manusia yang terpisah dari pengasuh
mereka.
|
|
Perkembangan kognitif ( J. Piaget)
|
Sensori Motor (lahir – 2 tahun)
Subtahap 1: menggunakan refleks (lahir
– 1 bulan)
|
Bayi menggunakan
sensasi / indra dan keterampilan motorik untuk mempelajari tentang dunia.
Refleks menghisap
membawa kesenangan menelan nutrisi. Bayi mulai mendapatkan kontrol terhadap
refleks dan mengenali objek-objek, bau dan suara yang familiar (sudah mereka
kenal).
|
|
Psikoseksual (Sigmund Freud)
|
Fase Oral (lahir – 1 tahun)
|
Kesenangan berfokus
pada aktivitas oral: pemberian makan dan menghisap.
|
|
Diadaptasi dari Erikson, E.H. (1963). Childhood
and society (2nd ed). New York: W. W. Norton and Company;
Goldson, E & Reynolds, A. (2011).
|
||
b. Motorik
Pada masa bayi baru lahir (0 sampai 28 hari), terjadi adaptasi terhadap
lingkungan dan terjadi perubahan sirkulasi darah serta mulainya berfungsi
organ-organ. Setelah 29 hari sampai dengan 11 bulan, terjadi proses pertumbuhan
yang pesat dan proses pematangan yang berlangsung secara terus menerus terutama
meningkatnya fungsi sistem syaraf. Kemampuan yang dimiliki bayi yaitu
kemampuan motorik.
Kemampuan motorik merupakan sekumpulan kemampuan untuk menggunakan dan
mengontrol gerakan tubuh, baik gerakan kasar maupun gerakan halus. Motorik
kasar merupakan keterampilan menggerakkan bagian tubuh secara harmonis dan
sangat berperan untuk mencapai keseimbangan yang menunjang motorik halus.
Motorik halus merupakan keterampilan yang menyatu antara otot halus dan panca
indera. Kemampuan motorik selalu memerlukan koordinasi bagian-bagian tubuh,
sehingga latihan untuk aspek motorik ini perlu perhatian.
Kemampuan motorik pada bayi berdasarkan usia yakni:
|
Usia
|
Motorik kasar
|
Motorik halus
|
|
0-3 bulan
|
mengangkat kepala, guling-guling, menahan kepala tetap tegak.
|
Melihat, meraih, memperhatikan benda bergerak, melihat benda-benda kecil, memegang benda.
|
|
3-6 bulan
|
Menyangga berat, mengembangkan kontrol kepala, duduk.
|
Memegang benda dengan kuat, memegang benda dengan kedua tangan, mengambil benda-benda
kecil.
|
|
6-9 bulan
|
Merangkak, menarik ke posisi berdiri, berjalan berpegangan, berjalan dengan
bantuan.
|
Memasukkan benda kedalam wadah, bermain 'genderang', memegang alat tulis, bermain mainan yang mengapung di air, membuat bunyi-bunyian, menyembunyikan
dan mencari mainan.
|
|
9-12 bulan
|
Bermain bola, membungkuk, berjalan sendiri, naik tangga.
|
Menyusun balok/kotak, menggambar, bermain di
dapur.
|
c. Perkembangan sensorik
1)
Penglihatan
Bayi baru lahir hanya dapat melihat dalam jarak
dekat, melihat objek dengan jarak 20,3 sampai 38,1 cm. Bayi baru lahir memilih
melihat wajah manusia dari pada benda lain. Mata bayi baru lahir bergerak ke segala
arah dan terkadang juling.
2)
Pendengaran
Pendengaran bayi baru lahir utuh saat lahir dan sama
akutnya seperti orang dewasa. Pada usia 1 bulan, bayi dapat mengenali suara
orang yang paling dikenalnya.
3)
Penciuman
dan pengecapan
Indra penciuman terbentuk dengan cepat: bayi berusia
7 hari dapat membedakan antara bau ASI ibu mereka dari bau wanita lain dan akan
memilih ke arah ibu. Bayi baru lahir memilih rasa manis dibanding rasa lain.
4)
Perabaan
Indra peraba adalah indra yang paling penting dari
semua indra untuk komunikasi dengan bayi baru lahir. Bayi tidak menyukai
disentuh secara kasar dan dapat menangis. Mendekap/memeluk, mengusap, mengayun
atau menimang. Bayi belajar memahami alam perasaan pengasuh mereka melalui cara
mereka menyentuh bayi.
d.
Komunikasi
dan bahasa
Selama beberapa bulan, menangis adalah satu-satunya
cara komunikasi untuk bayi baru lahir. Alasan dasar bayi menangis adalah
kebutuhan yang tidak terpenuhi.
e.
Sosial
dan emosional
Bayi baru lahir menghabiskan sebagian waktu untuk
tidur, tetapi bayi usia 2 bulan siap untuk mulai bersosialisasi.
5. Masa Neonatus
Pada masa neonatus ini
terbagi dalam dua masa, yaitu antara lain :
a. Masa Portunate
Masa portunate pada bayi berlangsung antara 15 - 30 menit pertama sejak
bayi lahir sampai tali pusatnya dipotong. Tindakan-tindakan atau
bantuan yang diberikan pada bayi baru lahir (BBL) antara lain :
1) Membersihkan muka bayi, daerah mata, hidung dan mulut
2) Melaksanakan penilaian APGAR Skor pada menit pertama dan menit kedua. APGAR Skor meliti A= Apperence (Warna Kulit), Pulse = Denyut Jantung, Gremace (Kepekaan Refleks), A= Activity (Tonus
Otot/Keaktifan Bayi),
R= Respiratory (Usaha Nafas-Pernafasan)
3) Membebaskan
jalan nafas bayi dengan cara ; menghisap lendir, darah, air ketuban
yang terhisap bayi
4) Memotong
tali pusat bayi yang terhubung dengan ari-ari sehingga ibu dan bayi terpisah, mengikat
dan merawat tali pusat
5) Membersihkan
badan bayi dari segala kotoran dengan menggunakan air hangat, sabun
6) Membungkus
badan bayi agar tidak kedinginan
7) Membawa
bayi ke ibunya untuk disusukan dan agar ibu lebih kenal lebih dini dengan
bayinya
8) Melaksanakan
pengukuran anthropometris bayi meliputi panjang badan, berat badan, lingkar
kepala, lingkar dada, lingkar lengan
9) Melakukan
pemeriksaan pada seluruh tubuh bayi untuk mengetahui apakah bayi lahir dalam
kondisi cacat/tidak yang meliputi pemeriksaan pada ; anus, sekitar kepala,
anggota gerak dan anggota tubuh lainnya
10) Memberi
dan memakaikan pakaian bayi
11) Memasang
dan memberi identitas bayi dan merawat mata dalam keadaan bersih, rapi dan
terbungkus hangat bayi dibawa ke ruang perawatan.
b. Masa Neonate
Masa neonate berlangsung pada saat pengguntingan tali pusat, anak menjadi
individu yang terpisah dan "berdiri sendiri".
Masa ini ditandai dengan penyesuaian terhadap lingkungan baru. Menurut
kriteria kesehatan penyesuaian tercapai ditandai dengan terlepasnya tali pusat.
Sedangkan menurut kriteria psikologi, penyesuaian tercapai apabila telah
mencapai kembali berat badan yang berkurang setelah lahir dan mulai menampakkan
tanda-tanda kemajuan perkembangan dalam tingkah laku (masa plateu). 4 (empat) penyesuaian utama yang harus dilakukan sebelum
anak dapat memperoleh kemajuan perkembangan tingkah laku, yaitu :
1)
Perubahan suhu dalam rahim
ibu dengan suhu lingkungan
2)
Perubahan pernafasan,
sebelum lahir bayi bernafas dengan plasenta dan setelah lahir bernafas dengan
paru-paru.
3)
Menghisap dan menelan sebagai cara untuk
memperoleh makanan yang semula dari plasenta melalui tali pusat.
4)
Cara pembuangan
melalui organ-organ sekresi yang mana sebelum lahir melalui plasenta dan tali
pusat.
Hari pertama sampai dengan
minggu kedua dari kelahiran, berat badan bayi akan menurun karena bayi mulai
kehilangan cairan melalui buang air besar dan kecil, melalui keringat, uap air
melalui pernafasan sedangkan pemasukan tidak mencukupi, sebab pemasukan air
susu ibu (ASI) masih kurang.
Pada masa neonatus, bayi akan lebih banyak tidur dan untuk
mempertahankan hidupnya neontaus diperalati dengan beberapa kemampuan seperti : insting, refleks dan kemampuan untuk
belajar
6.
Faktor
bayi baru lahir resiko tinggi
a. Asfiksia neonatorum
Asfiksia neonatorum ialah
keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur
setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia
ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan,
atau segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk
apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan
dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan
membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul (llyasjumiarni, 1994., hlm:
77)
b.
Infeksi neonatorum
Inkfesi
Neonatorum atau Sepsis adalah infeksi bakteri umum generalisata yang biasanya
terjadi pada bulan pertama kehidupan. yang menyebar ke seluruh tubuh bayi baru
lahir. Sepsis adalah sindrom yang dikarakteristikan oleh tanda-tanda klinis dan
gejala-gejala infeksi yang parah yang dapat berkembang ke arah septisemia dan
syok septik. (Doenges, Marylyn E. 2000,). Septisemia menunjukkan munculnya
infeksi sistemik pada darah yang disebabkan oleh penggandaan mikroorganisme
secara cepat dan zat-zat racunnya yang dapat mengakibatkan perubahan psikologis
yang sangat besar. Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi
merupakan penyebab dari 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi bakteri 5
kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari
2,75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki. Pada lebih dari 50% kasus, sepsis
mulai timbul dalam waktu 6 jam setelah bayi lahir, tetapi kebanyakan muncul dalam
waktu 72 jam setelah lahir.
c.
Hipoglikemia
Istilah
hipoglikemia merujuk pada kadar glukosa yang rendah. Hipoglikemia sesaat pada
awal kehidupan neonates cukup bulan merupakan hal yang wajar, sering didapatkan
dan terjadi pada hamper seluruh bayi baru lahir. Hal ini akan normal dengan
sendirinya dan bukanlah sesuatu yang patologis karena kadar glukosa darah
meningkat secara spontan dalam 2-3 jam. Dalam situasi dimana kadarglukosa darah
yang rendah karena belum mendapat asupan makanan (ASI belum ada) terjadi respon
ketogenik yaitu metabolism dari asam lemak menjadi badan keton. Otak bayi
dengan kemampuannya akan memanfaatkan badan keton untuk menghemat glukosa bagi
otak dan melindungi fungsi neurologis bayi.
Bayi
yang mendapat ASI cenderung mempunyai kadar glukosa yang rendah dibandingkan
dengan bayi yang mendapat susu formula, tetapi tidak berkembang menjadi
hipoglikemia simptomatik. Pemberian minum awal dengan ASI yang mengandung
alanin, asam lemak rantai panjang dan laktosa, akan meningkatkan proses
glukoneogenesis. Bayi cukup bulan yang minum ASI mempunyai kadar glukosa
yang lebih rendah tetapi mempunyai kadar badan keton yang lebih tinggi.
Hipoglikemia
ditandai oleh nilai yang unik pada masing-masing individu neonates dan
bervariasi sesuai dengan kematangan fisiologis dan pengaruh patologisnya.
Hipoglikemia pada bayi terjadi bila kadar glukosa darah < 45mg/dL.
d.
Ikterus
Ikterus
adalah warna kuning yang tampak pada kulit dan mukosa karena peningkatan
bilirubin. Biasanya mulai tampak pada kadar bilirubin serum > 5 mg/dL.
Ikterus fisiologis :
1)
Ikterus
terlihat pada hari ke 2-3, biasanya mencapai puncaknya antara hari ke 2-4 dan
menurun kembali dalam minggu pertama setelah lahir
2)
Kadar
bilirubin indirect tidak melebihi 10mg/dL pada neonates cukup bulan dan 12
mg/dL untuk neonates lebih bulan.
3) Kecepatan Peningkatan kadar bilirubin serum tidak melebihi
5mg/dL perhari.
Ikterus patologis :
1) Ikterus terjadi pada 24 jam pertama kehidupan.
2)
Peningkatan
kadar bilirubin serum sebanyak 5mg/dL atau lebih setiap 24 jam
3)
Kadar
bilirubin direct < 2mg/dL
4)
Ikterus
yang disertai oleh: berat lahir <2000 gram, Asfiksia,
Infeksi, trauma lahir pada kepala, hipoglikemia.
5)
Bilirubin
total/indirek untuk bayi cukup bulan > 13 mg/dL atau bayi kurang bulan
>10 mg/dL
e.
Hipotermi
Hipotermi pada
bayi baru lahir adalah suhu tubuh dibawh 36,5o C pengukuran dilakukan
pada ketiak selama 3-5 menit. Hipotermi disebabkan oleh :
1)
Evaporasi,
terjadi apabila bayi lahir tidak segera dikeringkan
2)
Konduksi, terjadi
apabila bayi diletakkan ditempat dengan alas yang dingin, seperti pada waktu
menimbang bayi
3)
Radiasi, terjadi
apabila bayi diletakkan diudara lingkungan dingin.
4) Konveksi, terjadi apabila bayi berada dalam ruangan
ada aliran udara karena pintu, jendela terbuka (Reeder,
2011).
1)
Pencegahan
Infeksi
a) Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan
bayi
b) Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum
dimandikan
c) Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem,
gunting, penghisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah didesinfeksi
tingkat tinggi atau steril.
d) Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan
untuk bayi, sudah dalam keadaan bersih. Demikin pula dengan timbangan, pita pengukur,
termometer, stetoskop
e) Memberikan vitamin K untuk mencegah terjadinya perdarahan karena
defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir normal atau cukup bulan perlu di beri
vitamin K per oral 1 mg / hari selama 3 hari, dan bayi beresiko tinggi di beri
vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 – 1 mg IM.
f) Memberikan obat tetes atau salep mata : Untuk pencegahan penyakit
mata karena klamidia (penyakit menular seksual) perlu diberikan obat mata pada
jam pertama persalinan, yaitu pemberian obat mata eritromisin 0.5 % atau
tetrasiklin 1 %, sedangkan salep mata biasanya diberikan 5 jam setelah bayi
lahir. Perawatan mata harus segera dikerjakan, tindakan ini dapat dikerjakan
setelah bayi selesai dengan perawatan tali pusat yang lazim dipakai adalah
larutan perak nitrat atau neosporin dan langsung diteteskan pada mata bayi
segera setelah lahir (Reeder, 2003., hlm: 121).
1)
Sel
Darah Putih 18000/mm3, Neutropil meningkat sampai 23.000-24.000/mm
hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis)
2)
Hemoglobin
14,5 - 22,5g/dl
3)
Hematokrit
44% - 72% (peningkatan 65% atau lebih menandakan polisitemia, penurunan kadar
gula menunjukan anemia/hemoraghi prenatal)
4)
Essai
Inhibisi guthriel tes untuk adanya metabolit fenillalanin, menandakan
fenil ketonuria
5)
Bilirubin
total 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan 8 mg/dl 1 - 2 hari dan 12 mg/dl pada
3 - 5 hari.
6)
Detrosik:
Tetes glukosa selama 4 - 6 jam pertama setelah kelahiran rata-rata 40-50
mg/dl,meningkat 60 -70 mg/dl pada hari ke 3.
7)
SDM
5 – 7,5 juta/mm3 . (Bobak,
2004).
B.
Asuhan Keperawatan Bayi Baru Lahir
1.
Pengkajian
bayi baru lahir dan pencegahan masalah kesehatan pada neonatus
a.
Pengkajian
fisik bayi baru lahir
Pemeriksaan pertama pada bayi baru lahir
harus dilakukan di kamar bersalin. Perlu mengetahui riwayat keluarga, riwayat
kehamilan sekarang dan sebelumnya dan riwayat persalinan. Pemeriksaan dilakukan bayi dalam keadaan telanjang dan
dibawah lampu yang terang. Tangan serta alat yang digunakan harus
bersih dan hangat.
Tujuan pemeriksaan ini adalah :
1)
Menilai
gangguan adaptasi bayi baru lahir dari kehidupan dalam uterus ke luar uterus
yang memerlukan resusitasi.
2)
Untuk
menemukan kelainan seperti cacat bawaan yang perlu tindakan segera.
3) Menentukan apakah bayi baru lahir dapat dirawat bersama ibu (rawat
gabung) atau tempat perawatan khusus.
Penilaian
APGAR score menurut (Saifuddin, 2006) hal: 248-249
|
Tanda
|
Skore
0
|
Skore
1
|
Skore
2
|
|
Appearance
/warna kulit
|
Badan
biru/pucat
|
Tubuh
kemerahan, ektremitas biru
|
Merah
seluruh tubuh
|
|
Pulse
rate/frekuensi nadi
|
Tidak
ada
|
Kurang
dari 100
|
Lebih
dari100
|
|
Grimance/reaksi
rangsangan
|
Tidak
ada
|
Sedikit
gerakan mimik (grimace)
|
Batuk/bersin
|
|
Activity/tonus
otot
|
Lunglai/lemas
|
Ektremitas
dalam sedikit fleksi
|
Bergerak
aktif
|
|
Respiration/pernapasan
|
Tidak
ada
|
Menangis
lemah, tidak teratur
|
Baik
atau Menangis kuat
|
Keterangan :
Keadaan umum bayi di nilai satu menit setelah lahir dengan
penggunaan nilai apgar. Penilaian ini perlu untuk mengetahui apakah bayi
menderita asfiksia ataua tidak. Yang dinilai ialah frekuensi jantung (heart
rate), usaha napas (respiratory effort), tonus otot (muscle tone) ,warna kulit
(colour) dan reaksi terhadap rangsangan (response tostimuli) yaitu dengan
memasukkan kateter ke lubang hidung setelah jalan napas dibersihkan. Setiap
penilaian diberi angka 0,1,dan 2. Dari hasil penilaian tersebut dapat diketahui
apakah bayi normal (vigorous baby = nilai Apgar 7-10), asfiksia sedang-ringan
(nialai Apgar 4-6) atau bayi menderita asfiksia berat (nilai 0-3). Bila nilai
Apgar dalam 2 menit tidak mencapai nilai 7, maka harus dilakukan tindakan
resusitasi lebih lanjut oleh karena bila bayi menderita asfiksia lebih dari 5
menit.
1)
Pemeriksaan fisik bayi baru lahir
Pemeriksaan
ini harus dilakukan dalam 24 jam dan dilakukan setelah bayi berada di ruang
perawatan. Tujuan pemeriksaan untuk mendeteksi kelainan yang mungkin terabaikan
pada pemeriksaan di kamar bersalin.
|
Pengkajian
|
Temuan
biasa
|
Variasi
umum/abnormalitas minor
|
Tanda
potensial kegawatan/abnormalitas utama
|
|
Pengukuran umum
|
·
Lingkar
kepala 33-35 cm
·
Lingkar
dada 30,5-33 cm
·
Lingkar
kepala kira-kira 2-3 cm lebih besar dari lingkar dada
·
Panjang
kepala ke tumit 48-53 cm
·
Berat
badan lahir 2700-4000 g
|
·
Molding
setelah kelahiran dapat mengubah/menurunkan lingkar kepala
·
Lingkar
kepala dan lingkar dada mungkin sama untuk 1-2 hari setelah kelahiran
·
Berat
badan menurun 10% dalam 1 minggu pertama; meningkat kembali dalam 10-14 hari.
|
·
Lingkar
kepala < persentil ke 10 atau > persentil ke 90
·
Berat
badan lahir < persentil ke 10 atau > persentil ke 90
|
|
Tanda Vital
·
Suhu
·
Frekuensi
jantung
· Napas
|
Aksila 36,5°-37° C
Apikal 120-140 denyut/menit
30-60 kali/menit
|
·
Menangis
dapat meningkatkan suhu tubuh
·
Radian
penghangat akan meningkatkan suhu aksila
·
Menangis
akan meningkatkan frekuensi jantung; tidur akan menurunkan frekuensi jantung
·
Selama
periode reaktivitas (6-8 jam), frekuensi dapat mencapai 180 denyut/menit.
·
Menangis
akan meningkatkan frekuensi pernapsan; tidur akan menurunkan frekuensi
pernapasan
·
Selama
periode reaktivasi (6-8 jam), frekuensi dapat mencapai 80 kali/menit
|
·
Hipotermi
·
Hipertermi
·
Bradikardi
– frekuensi istirahat dibawah 80-100 denyut permenit
·
Takikardi
– frekuensi 160-180 denyut permenit
·
Irama
tidak teratur
·
Takipnea
– frekuensi dibawah 60 kali/menit
·
Apnea
> 15-20 detik
|
|
Penampilan umum
|
Postur – fleksi kepala dan
ekstremitas, dengan istirahat telentang dan telungkup
|
Frank breech – kaki diekstensikan,
diabduksikan dan paha dirotasi penuh, oksiput didatarkan, leher diekstensikan
|
·
Postur
timpang, ekstensi ekstremitas
|
|
Kulit
|
·
Pada
saat lahir merang terang, halus
·
Hari
kedua sampai ketiga merah muda, mengelupas, kering
·
Verniks
kaseosa
·
Lanugo
·
Edema
disekitar mata, wajah, skrotum/labia
·
Perubahan
warna normal: akrosianosis-sianosis tangan dan kaki
|
·
Ikterik
neonatus setelah 48 jam pertama
·
Ekimosis/petekie
karena trauma kelahiran
·
Milia:
kelenjar sebasea terdistensi tampak sebagai papula putih kecil pada pipi,
dagu, hidung
·
Miliaria/sudamina:
kelenjar keringat terdistensi yang tampak sebagai vesikel menit, khususnya
pada wajah.
|
·
Ikterik
berlanjut, pada 24 jam pertama
·
Kulit
memucat
·
Sianosis
·
Keabu-abuan
·
Hemoragi,
ekimosis, petekie yang menetap
·
Sklerema-
kulit keras dan kaku
|
|
Kepala
|
·
Fontanel
anterior- bentuk berlian 2,5-4,0 cm
·
Fontanel
posterior – bentuk segitiga 0,5-1 cm
·
Fontanel
harus datar, lunak dan padat
·
Bagian
terlebar dari fontanel diukur dari tulang ke tulang, bukan dari sutura ke
sutura
|
·
Molding
setelah persalinan veginal
·
Penonjolan
fontanel karena menangis atau batuk
·
Kaput
suksedaneum – edema jaringan kulit kepala yang lunak yang melewati garis
sutura
·
Sefalhematoma
– diantara periosteum dan tulang tengkorak yang dibatasi dengan batas khusus
dan tidak melewati garis sutura
|
·
Sutura
menyatu
·
Penonjolan
fontanel ketika bayi tenang
·
Pelebaran
sutura dan fontanel
·
Kraniotabes
– sensasi tajam sepanjang sutura lamdoidal yang mirip lekukan bola pingpong
|
|
Mata
|
·
Kelopak
biasanya edema
·
Mata
biasanya tertutup
·
Tidak
ada air mata
·
Adanya
refleks merah
·
Refleks
kornea sebagai respon terhadap sentuhan
·
Refleks
pupil sebagai respon terhadap cahaya
·
Refleks
berkedip sebagai respon terhadap cahaya/sentuhan
·
Fiksasi
rudimenter pada objek dan kemampuan untuk mengikuti ke garis tengah
|
·
Lipatan
epikantus pada bayi Orietal
·
Nistagmus/strabisms
|
·
Warna
merah muda dari iris
·
Rabas
purulent
·
Pandangan
ke atas pada non oriental
·
Hipertelorisme
·
Hipotelorisme
·
Katarak
kongenital
·
Pupil
kontriksi atau dilatasi
·
Tidak
ada refleks pupil atau kornea
·
Tidak
ada refleks merah
·
Ketidak
mampuan mengikuti objek cahaya terang ke garis tengah
·
Sclera
kuning
|
|
Telinga
|
·
Posisi-puncak
pinna berada pada garis horizontal
·
Refleks
moro/terkejut ditimbulkan bunyi keras dan tiba-tiba
·
Pina
lentur, adanya kartilago
|
·
Pina
datar sejajar kepala
·
Bentuk
atau ukuran tidak teratur
·
Bercak
atau bintik kulit
·
Sinus
preaurikuler
|
·
Penempatan
telinga terlalu rendah
·
Abnormalitas
pina minor dapat terjadi tanda dari berbagai sindrom
|
|
Hidung
|
·
Patensi
nasal
·
Rabas
nasal-mukus putih encer
·
Bersin
|
·
Datar
dan memar
|
·
Kanal
tidak paten
·
Rabas
nasal kental dan berdarah
·
Pelebaran
cuping hidung
·
Sekresi
nasal berlebih atau tersumbat
·
Tidak
ada septum
|
|
Mulut dan tenggorokan
|
·
Utuh,
palatum arkus tinggi
·
Uvula
di garis tengah
·
Frenulum
lidah
·
Frenum
bibir atas
·
Refleks
menghisap kuat
·
Saliva
minimal/tidak ada
·
Menangis
keras
|
·
Gigi natal
·
Epstein
pearls- kista epitel kecil dan putih disepanjang garis tengah palatum keras
|
·
Bibir
sumbing
·
Palatum
terbelah
·
Lidah
besar, menjulur/kesalahan posisi posterior dari lidah
·
Sariawan
|
|
Leher
|
·
Pendek,
gemuk, biasanya dikelilingi oleh lipatan kulit
·
Refleks
leher tonik
·
Neck-righting
·
Otolith-righting
|
·
Leher
miring kepala menengok ke salah satu sisi dengan dagu mengarah ke sisi yang
berlawanan
|
·
Tahanan
terhadap fleksi
·
Tidak
ada leher tonik, neck righting, otolith righting, klavikula fraktur
|
|
Dada
|
·
Diameter
anteroposterior dan lateral sama
·
Pembesaran
dada
·
Terlihat
prosesus xifoideus
·
Pembesaran
dada
|
·
Dada
corong
·
Dada
burung
·
Putting
supernumerary
·
Sekresi
seperti senyawa susu dari payudara
|
·
Retraksi
dada dan ruang intercostal selama pernapsan
·
Ekspansi
dada asimetrik
·
Putting
berjarak jauh.
|
|
Paru-paru
|
·
Pernapasan
abdominal
·
Refkleks
batuk tidak ada saat lahir, ada setelah 1-2 hari
·
Bunyi
napas bronkial sama secara bilateral
|
·
Frekuensi
pernapsan tidak teratur, pernapasan periodic
·
Crackles
sesaat saat lahir
|
·
Inspirasi
stidor
·
Ekspirasi
mengorok
·
Bunyi
napas tidak sama
·
Crackles
halus menetap mengi
·
Penurnan
bunyi napas
·
Takipnea
(> 60 napas permenit)
|
|
Jantung
|
·
Apeks-ruang
intercostal ke empat sampai kelima, sebelah lateral batas kiri sternum
·
Nada
S2 sedikit lebih tajam dan lebih tinggi dari pada S1
|
·
Sinus
aritmia- pernapasan meningkat selama inspirasi dan menurun selama ekspirasi
·
Sianosis
saat menangis segera setelah lahir
|
·
Dekstrokardia
·
Kesalahan
posisi impuls apical
·
Kardiomegali
·
Murmur
·
Sianosis
menetap
|
|
Abdomen
|
·
Bentuk
silindris
·
Hepar
dapat teraba 2-3 cm dibawah marjin kostal kanan
·
Limpa
dapat diraba pada akhir minggu pertama
·
Ginjal
dapat diraba 1-2 cm diatas umbilikus
·
Pusat
umbilikus berwarna putih kebiruan memiliki 2 arteri dan 1 vena
·
Nadi
femoral bilateral sama
|
·
Hernia
umbilikus
·
Diastasis
rekti-kesenjangan garis tengah antara otot-otot rektum
|
·
Distensi
abdomen
·
Penonjolan
setempat
·
Distensi
vena
·
Bising
usus tidak ada
·
Pembesaran
hepar dan limpa
·
Tali
umbilikus hijau
·
Urine
atau feses bocor dari tali pusat
·
Distensi
kandung kemih
·
Nadi
femoral tidak ada
|
|
Genetalia wanita
|
·
Labia
dan klitoris biasanya edema
·
Labia
minora lebih besar dari labia mayora
·
Meatus
uretral di belakang klitoris
·
Verniks
kaseosa di antara labiya
·
Berkemih
dalam 24 jam
|
·
Rabas
bercak darah atau mukoid
·
Selaput
himen
|
·
Genetalia
ganda
·
Pembesaran
klitoris
·
Labia
menyatu
·
Tidak
ada lobang vagina
·
Rabas
fekal dari lubang vagina
·
Tidak
berkemih dalam 24 jam
·
Massa
pada labia
|
|
Genetalia pria
|
·
Lubang
uretra pada puncak glen penis
·
Testis
dapat diraba dalam setiap skrotum
·
Smegma
·
Berkemih
dalam 24 jam
|
·
Lubang
uretral tertutup prepusium
·
Mutiara
epithelial
·
Ereksi
atau priapisme
·
Testis
dapat diraba pada kanal inguinalis
·
Skrotum
kecil
|
·
Hipospadia
·
Epispadia
·
Chordee
·
Kanalis
inguinalis
·
Tidak
ada urine dalam 24 jam
·
Hernia
inguinalis
·
Massa
dalam skrotum
·
Genetalia
ganda
|
|
Punggung dan rectum
|
·
Spina
utuh tidak ada lubang, masa, atau kurva menonjol
·
Wink
anal
·
Lubang
anal paten
·
Lintasan
meconium dalam 36 jam
|
·
Feses
cair hijau pada bayi di bawah fototerapi
|
·
Fisura
anal atau fistula
·
Anus
imperforate
·
Tidak
ada wink anal
·
Tidak
ada meconium dalam 36 jam
·
Kista
pilonidal atau anus
·
Spina
bifida
|
|
Ekstremitas
|
·
Sepuluh
jari tangan dan kaki
·
Rentang
gerak penuh
·
Punggung
kuku merah muda
·
Fleksi
ekstremitas atas dan bawah
·
Telapak
datar
·
Ekstremitas
simetris
·
Nadi
brakialis bilateral sama
|
·
Sindaktili
parsial antara jari kaki kedua dan ketiga
·
Jari
kaki tumpang tindih
·
Panjang
jari kaki asimetris
·
Dosofleksi
dan pemendekan haluks (jari besar)
|
·
Polidaktili
·
Sindaktili
·
Fokomelia
·
Hemimelia
·
Hiperfleksibilitas
sendi
·
Fraktur
·
Dislokasi
·
Tinggi
lutut tidak sama
·
Ekstremitas
asimetri
·
Tonus
otot atau rentang gerak tidak sama
|
|
Sistem neuromuskuler
|
·
Ektremitas
mempertahankan derajat fleksi
·
Ekstensi
diikuti fleksi seblmnya
·
Mampu
memutar kepala dari satu sisi kesisi lain ketika tengkurap
·
Mampu
menahan kepala dalam garis horizontal dengan punggung bila tengkurap
|
·
Tremor
atau gemetar sebentar
|
·
Hipotonia
·
Hypertonia
·
Postur
asimetris
·
Postur
opistotonik
·
Tanda
paralisis
·
Tremor,
kedutan
|
b. Diagnosa Keperawatn
1) Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan mucus berebihan, posisi tidak tepat
Sasaran pasien: pasien mempertahankan jalan napas yang paten
Intervensi keperawatan/Rasional :
a) Hisap mulut dan nasofaring dengan spuit
bulb sesuai kebutuhan
b) Tekan bulb sebelum memasukkan dan
mengaspirasi faring, kemudian hidung untuk mencegah aspirasi cairan
c) Dengan alat penghisap mekanis, batasi
setiap upaya penghisapan sampai 5 detik dengan waktu yang cukup untuk
memungkinkan reoksigenasi
d) Posisikan bayi miring ke kanan setelah
memberikan makan untuk mencegah aspirasi
e) Lakukan sedikit mungkin prosedur pada
bayi selama jam pertama dan sediakan oksigen untuk digunakan bila terjadi
distress pernapasan
f) Bersihkan lubang hidung dari sekresi
kering selama mandi
g) Periksa kepatenan lubang hidung
Hasil yang diharapkan: jalan napas tetap paten, pernapasan teratur dan
tidak sulit, frekuensi napas dalam batas normal.
2)
Resiko
tinggi perubahan suhu tubuh berhubungan dengan kontrol suhu yang imatur,
perubahan suhu lingkungan
Sasaran pasien: pasien mempertahankan suhu tubuh yang stabil
Intervensi keperawatan/Rasional :
a)
Selimuti
bayi rapat dengan selimut hangat
b)
Tempatkan
bayi dalam lingkungan yang dihangatkan sebelumnya atau pada lengan orang tua.
c)
Pertahankan
temperature ruangan antara 24° C dan 25,5° C dan kelembaban sekitar 40%-50%
d)
Beri
pakaian dan popok bayi dan bedong dengan selimut
e)
Berikan
penutup kepala pada bayi
f)
Dekap
bayi diantara payudara ibu dengan posisi bayi telungkup dan posisi kaki seperti kodok serta kepala menoleh ke satu sisi
g)
Metode
kangguru bisa dilakukan dalam posisi ibu tidur dan istirahat
h)
Waspada
terhadap tanda hipotermi atau hipertermia
Hasil yang
diharapkan: suhu bayi tetap pada tingkat optimal (36,5°C-37,5°C)
3)
Resiko
tinggi infeksi atau inflamasi berhubungan dengan kurangya pertahanan
imunologis, faktor lingkungan, penyakit ibu
Sasaran pasien: pasien tidak menunjukkan bukti infeksi
Intervensi keperawatan/Rasional:
a)
Cuci
tangan sebelum dan setelah merawat bayi
b)
Pakai
sarung tangan ketika kontak dengan sekresi tubuh
c)
Periksa
mata setiap hari untuk melihat adanya tanda-tanda inflamasi
d)
Jaga
bayi dari sumber potensial infeksi
e)
Pertahankan
asepsis dan sirkumsisi
f)
Pertahankan
potongan umbilikus bersih dan kering
Hasil yang
diharapkan: bayi tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi/implamasi, mata tetap
bersih tanpa iritasi, funikulus tampak kering, area sekitar bebas dari infeksi.
4)
Resiko
tinggi trauma berhubungan dengan ketidak berdayaan fisik
Sasaran pasien: pasien diidentifikasi dengan jelas dan benar
Intervensi keperawatan/Rasional:
a)
Pastikan
bayi diidentifikasi dengan tepat untuk ditempatkan dengan ibu yang tepat
b)
Periksa
gelang ID bayi dengan sering untuk menjamin identitas bayi yang benar
c)
Observasi
tanda identitas staf dan berikan bayi hanya pada personel yang teridentifikasi
d)
Hindari
penggunaan thermometer rektal
e)
Jaga
agar kuku jari tetap pendek dan tumpul
f)
Lakukan
metode yang tepat dalam penanganan dan pemindahan bayi
Hasil yang
diharapkan: bayi diidentifikasi dengan jelas dan tepat, pasien tidak mengalami
cedera fisik
5)
Perubahan
nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh (resiko tinggi) berhubungan dengan
imaturitas, kurangnya pengetahuan orang tua
Sasaran pasien: pasien mendapat nutrisi yang optimal
Intervensi keperawatan/Rasional:
a)
Kaji
kekuatan menghisap dan koordinasi dengan menelan
b) Timbang berat badan bayi saat menerima di ruang perawatan dan
setelah itu setiap hari
c) Auskultasi bising usus
d)
Siapkan
untuk pemberian makan yang dibutuhkan seperti ASI; pemberian makan malam
ditentukan oleh kondisi dan keinginan ibu
e)
Dukung
dan bantu ibu menyusui selama pemberian makan awal dan lebih sering bila perlu
f)
Hindari
pmberian makanan suplemen untuk bayi yang minum ASI
g)
Dorong
ayah untuk tetap bersama ibu agar membantu ibu dan bayi dalam merubah posisi,
relaksasi
h)
Tempatkan
bayi miring ke kanan setelah makan untuk mecegah aspirasi
i)
Observasi
pola feses
Hasil yang
diharapkan: bayi menunjukkan penghisapan yang kuat, bayi tetap mendapat
makanan, bayi mendapat nutrisi yang cukup, berat badan bayi kurang dari 10%
berat badan lahir.
2.
Promosi
Kesehatan pada ibu dan keluarga dengan perkembangan Neonatus
a.
Pencegahan infeksi
1)
Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah
bersentuhan dengan bayi
2)
Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain
yang digunakan untuk bayi, sudah dalam keadaan bersih.
3)
Usahakan agar tali pusat tetap kering.
b.
Menjaga suhu bayi agar tetap hangat. Untuk menjaga
suhu bayi tetap hangat melalui upaya berikut:
1)
Keringkan bayi dengan seksama
Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi memulai pernapasannya.
Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi memulai pernapasannya.
2)
Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan
hangat
Ganti handuk atau kain yang telah basah oleh cairan ketuban dengan selimut atau kain yang baru (hanngat, bersih, dan kering).
Ganti handuk atau kain yang telah basah oleh cairan ketuban dengan selimut atau kain yang baru (hanngat, bersih, dan kering).
3)
Selimuti bagian kepala bayi
Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yg relative luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yg relative luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
4)
Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas. Sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu jam pertama kelahiran.
jangan memandikan bayi di tempat yang terbuka
Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya, maka dari itu agar suhu tubuh bayi tetap hangat sebaiknya memandikan bayi pada lingkungan yang tertutup dengan menggunakan air hangat.
Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas. Sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu jam pertama kelahiran.
jangan memandikan bayi di tempat yang terbuka
Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya, maka dari itu agar suhu tubuh bayi tetap hangat sebaiknya memandikan bayi pada lingkungan yang tertutup dengan menggunakan air hangat.
c. Merawat tali
pusat
1)
Pastikan tali pusat tetap kering.
2)
Bersihkan dan keringkan pangkal tali pusat termasuk
daerah sekitarnya dan lipatan- lipatan pusar dengan perlahan.
Lakukan dua kali sehari
3)
Tidak perlu membubuhi apapun.
4)
Perhatikan dan waspadai jika kondisinya, ada nanah
atau darah di daerah ini, tali pusat bengkak dan memerah, tali pusat tidak
putus dalam 4 minggu atau keluar bau tidak sedap. Segera hubungi dokter.
d. Membersihkan
kelamin bayi
1)
Membersihkan penis
2)
Usap daerah penis, sisi-sisinya, dan di bawah
testikel dengan kapas basah.
3)
Lalu bersihkan daerah pangkal paha termasuk lipatannya.
4)
Bersihkan daerah anus dan perhatikan lipatan-lipatan
di sekitarnya
5)
Cara membersihkan dengan gerakan memutar ke arah
bawah, menghadap jari kaki si kecil
6)
Membersihkan vagina
7)
Gunakan baby wipe atau kapas steril yang telah direndam
dalam air hangat.
8)
Angkat kaki bayi dengan memegangi pergelangan kakinya.
9)
Usap daerah vagina dengan perlahan,tetapi cukup kuat,
dari arah depan ke belakang. Ini untuk mengurangi risiko berpindahnya
kuman-kuman ke vagina.Bersihkan bibir luar vagina, dan pastikan anda
membersihkan daerah lipatan di daerah paha bagian atas.
10)
Keringkan dengan tisu yang lembut dan tidak mudah
sobek atau kain berrsih. Ambil tisu lagi dan bersihkan pula daerah pantat dan
panggul
11)
Biarkan beberapa saat agar kering
12)
Hindari pemakaian tali. Pakaian popok bersih sesudahnya.
e. Mamberikan ASI pada bayi. Manfaat pemberian ASI bagi bayi:
1)
ASI sebagai nutrisi terbaik
2)
Meningkatkan daya tahan tubuh.
3)
Meningkatkan kecerdasan
4)
Meningkatkan jalinan kasih sayang antara anda dan
buah hati tercinta
Keuntungan memberi ASI bagi bayi :
1)
Pemberian ASI tak perlu menggunakan botol,sehingga
ASI sangat steril tak mudah tercemar
2)
ASI mengandung antibodi terhadap penyakit yang
disebabkan bakteri, virus ataupun jamur
3)
Dengan memberi ASI berarti anda tak perlu
mengeluarkan dana untuk membeli susu kaleng atau memasak air untuk menyeduh
susu
4)
Tak menyebabkan alergi
5)
Kaya vitamin, mineral & zat besi dan mudah untuk dicerna.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Periode
bayi baru lahir atau neonatal adalah masa sejak lahir sampai usia 28 hari.
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses berkelanjutan yang saling terkait
di masa bayi dan kanak-kanak. Pertumbuhan merupakan peningkatan ukuran fisik.
Perkembangan adalah rangkaian proses ketika bayi dan anak mengalami peningkatan
berbagai keterampilan dan fungsi. Terdapat beberapa perubahan yang terjadi pada
bayi baru lahir diantaranya yaitu: pertumbuhan fisik, sistem organ,
perkembangan psikososial, motorik, sensorik, komunikasi dan bahasa serta sosial
dan emosial. Masa neonatus terbagi menjadi dua bagian diantaranya yaitu: masa
Portunate dan masa Neonate. Dalam tumbuh kembang Neonatus selalu melibatkan
orang tua demi tercapainya perkembangan anak. Perilaku yang dapat dilakukan
orang tua dengan tumbuh kembang neonatus diantaranya yaitu mencegah terjadinya
infeksi pada bayi, menjaga kestabilan suhu bayi, merawat tali pusat serta
memberikan asi pada bayi, dengan melakukan perilaku tersebut bayi dapat
mengenal orang yang merawatnya dan dekat dengan orang tuanya.
Dalam memberikan
asuhan keperawatan terdapat pengkajian fisik head to toe untuk mengetahui ada
atau tidaknya kelainan saat lahir, selain itu pemeriksaan APGAR pun diperlukan.
Terdapat 5 diagnosa keperawatan yang mungkin akan terjadi pada bayi baru lahir
diantaranya yaitu: bersihan napas tidak efektif, resiko tinggi perubahan suhu
tubuh, resiko tinggi infeksi, resiko tinggi trauma, dan perubahan nutrisi.
Kyle, Terri.
(2014). Buku Ajar Keperawatan Pediatric
Vol. 1 Ed 2. Jakarta: EGC
Kemenkes RI. (2012). Pedoman Pelaksanaan
Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan
Kesehatan Dasar. Jakarta
Wong,
Donna L. (2003). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatric Ed 4. Jakarta: EGC
Marni dan Kukuh rahardjo. (2012). Asuhan Neonatus, Bayi, Balita dan
Anak Pra sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Setiyani, Astuti. (2016). Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi,
Balita, dan Anak Pra Sekolah. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI
Susilaningrum R dkk. (2013). Asuhan Keperawatan pada Bayi dan Anak (untuk Perawat dan Bidan) Edisi
2. Jakarta: Salemba Medika
Whaley, L.F. and Wong, D.L. 1998: Essential of
Pediatric Nursing, 4th. Edition.Philadelphia : CV. Mosby Co