Rabu, 05 September 2018

Tumbuh kembang anak Neonatus


TUMBUH KEMBANG NEONATUS

Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Keperawatan Anak


Disusun Oleh : Kelompok 1

Ari Purwaningsih
Husniyati Lutfiyah
Irma Budi Lestari
Siti Nurjanah

Kelas : 1 C



UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM S1 TRANSFER
TAHUN 2017

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum. Wr. Wb

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah keperawatan Anak tentang ”Tumbuh Kembang Neonatus” sesuai waktu yang telah ditentukan. Shalawat serta salam tetap tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta sahabat dan para pengikutnya.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan oleh berbagai pihak, baik moril maupun materil dalam proses pembuatan makalah  ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran ataupun kritik yang membangun, sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga apa yang disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Aamiin.
                                                                                    Wassalamu’alaikum. Wr. Wb


Jakarta, 26 September 2017


Penyusun
Kelompok 1


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................ i
DAFTAR ISI ............................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................... 1
A.    Latar Belakang .................................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah ............................................................................................. 1
C.     Tujuan ............................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN TEORI ..................................................................................... 3
A.    Konsep Tumbuh Kembang Neonatus ............................................................... 3
1.      Definisi Neonatus dan Tumbuh Kembang ................................................. 3
2.      Pertumbuhan Fisik ...................................................................................... 3
3.      Maturasi Sistem Organ ............................................................................... 5
4.      Perkembangan Neonatus .......................................................................... 10 
5.      Masa Neonatus ......................................................................................... 13
6.      Faktor bayi baru lahir resiko tinggi ........................................................... 15
B.     Asuhan Keperawatan Bayi Baru Lahir ........................................................... 19
1.      Pengkajian.................................................................................................. 19
2.      Diagnosa dan Perencanaan Keperawatan ................................................. 26
3.      Promosi Kesehatan pada keluarga dengan perkembangan Neonatus........ 28
BAB III PENUTUP .................................................................................................. 31
A.    Simpulan ......................................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 32

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang 
Pada beberapa jam setelah bayi dilahirkan atau beberapa hari setelah dilahirkan, perubahan fisiologis yang hebat yang penting bagi kesehatan dan ketahanan hidup, terjadi pada bayi baru lahir. Selain perubahan fisiologis bayi tersebut, bayi baru lahir harus beradaptasi  dengan bermacam-macam cara yang berbeda terhadap lingkungan yang benar-benar baru meliputi : Pernapasan, Sirkulasi darah , System imun, Pengaturan suhu-metabolisme, Sistem neurologis, System gastrointestinal, Fungsi ginjal dan sekresi urine, Fungsi hati.
Oleh karena itu, pengetahuan tentang dasar fisiologis dan tumbuh kembang untuk melakukan pengkajian lengkap bayi baru lahir selama jam-jam dan hari-hari pertama setelah dilahirkan sangatlaah penting. Memahami tumbuh kembang pada Neonatus atau bayi baru lahir sangatlah penting mengingat setiap neonatus memiliki karakteristik yang berbeda- beda satu dengan yang lainnya. Suatu pengkajian yang lengkap akan mencakup beberapa area yang berbeda yang mungkin saling tumpang tindih. Area tersebut meliputi fisik, neurologis, usia gestasi, dan pengkajian perilaku. Pengkajian fisik yang sering, harus dilakukan ketika bayi dirawat di rumah sakit atau di rumah bersalin. Hal ini penting  dilakukan untuk menentukan apakah dan seberapa baik bayi baru lahir dapat mengatasi transisi fisiologis dari kehidupan intrauterus dan kehidupan ekstrauterus. Selain itu, pengkajian neurologis, usia gestasi, dan perilaku harus dilakukan sebelum bayi bari lahir pulang dari rumah sakit sehingga berbagai masalah actual dan potensial pada area-area tersebut dapat ditemukan sedini mungkin dalam kehidupan bayi baru lahir (Reeder S. J., 2011, hlm: 71).

B.     Rumusan Masalah
Bagaimana tumbuh kembang neonatus, pengkajian bayi baru lahir dan pencegahan masalah kesehatan pada neonatus ?

C.     Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :
1.      Agar mahasiswa/i mengetahui dan memahami pengertian Neonatus
2.      Diharapkan agar mahasiswa/i memahami konsep tumbuh kembang pada Neonatus
3.      Agar mahasiswa/i mampu melakukan pengkajian pada Neonatus
4.      Agar mahasiwa/i mampu merumuskan diagnose keperawatan pada Neonatus
5.      Agar mahasiswa/i mampu menyusun rencana keperawatan pada Neonatus
6.      Agar mahasiswa/i mampu melakukan implementasi keperawatan pada Neonatus
Pada tahap akhir diharapkan agar mahasiswa/i dapat mengevaluasi dari tindakan yang telah dilakukan














BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Konsep Tumbuh Kembang Neonatus
1.      Definisi Neonatal dan Tumbuh Kembang
Periode bayi baru lahir atau neonatal pada masa sejak lahir sampai usia 28 hari. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses berkelanjutan yang saling terkait di masa bayi dan kanak-kanak (Kyle, 2014). Bayi baru lahir adalah bayi yang pada usia kehamilan 37-42 minggu dan berat badan 2.500-4.000 gram (Vivian, N. L. D, 2010).
Pertumbuhan merupakan peningkatan ukuran fisik. Perkembangan adalah rangkaian proses ketika bayi dan anak mengalami peningkatan berbagai keterampilan dan fungsi (Kyle, 2014). Hereditas memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dengan menentukan potensi anak, sementara lingkungan berkontribusi terhadap derajar pencapaian. Maturasi adalah peningkatan fungsi berbagai sistem tubuh atau keterampilan perkembangan.
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat (Kemenkes R.I, 2012). Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar dan gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian (Kemenkes R.I, 2012).

2.      Pertumbuhan Fisik
Bayi baru lahir mengalami perubahan fisiologis yang sangat hebat. Perubahan yang kompleks ini harus terjadi pada jangka waktu yang tepat bagi bayi baru lahir untuk dapat bertahan hidup dan berkembang secara normal. Bayi baru lahir harus  melewati beberapa fase selama beradaptasi dengan kehidupan di luar uterus. Pengkajian pertumbuhan secara berkelanjutan sangat penting sehingga pertumbuhan yang cepat atau yang tidak adekuat dapat diidentifikasi sejak dini. Bayi tumbuh dengan sangat cepat dalam usia 12 bulan pertama. Berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala dan dada merupakan indikator pertumbuhan fisik pada bayi baru lahir.

Rata – Rata Ukuran Bayi Saat Lahir Serta Usia 6 dan 12 Bulan
Usia
Berat badan
Panjang/tinggi badan
Lingkar kepala
Lahir
3,4 kg
48-53 cm
33-35 cm
6 bulan
7,3 kg
63,5-68,5 cm
42-44,5 cm
12 bulan
10,5 kg
71,76 cm
45-47,5 cm
Diadaptasi dari Hagan, J.F., Shaw & Duncan, P.M (Eds). (2008). Bright futures: Guidelines for health supervision of infant, children, and adolescents (3rd ed., rev). elk village: American academic of pediatrics

a.       Berat badan
Kisaran berat badan bayi baru lahir adalah 3,4 kg saat lahir. Bayi baru lahir kehilangan 10% dari berat tubuhnya dalam usia 5 hari pertama. Rata-rata bayi baru lahir kemudian bertambah berat badannya sekitar 20-30 g perhari dan mendapatkan berat badan yang sama seperti saat lahir pada usia 10-14 hari. Sebagian besar berat badan bayi bertambah menjadi dua kali lipat dari berat lahirnya pada usia 4-6 bulan dan bertambah menjadi tiga kali lipat dari berat lahir pada usia 1 tahun (Hagan, Shaw & Duncan, 2008)
b.      Panjang badan
Panjang rata-rata bayi baru lahir adalah 48-53 cm saat lahir. Selama 6 bulan pertama, panjang meningkat sebesar 2,5 cm perbulan, kemudian sekitar 0,12 cm perbulan dalam usia 6 bulan kedua (Hagan et al., 2008)
c.       Lingkar kepala dan dada
Rata-rata lingkar kepala bayi usia cukup bulan adalah 33-35 cm. lingkar kepala sekitar 2-3 cm lebih besar dari pada lingkar dada, yang rata-rata berukuran 30,5-33 cm. lingkar kepala meningkat dengan cepat selama usia 6 bulan pertama: rata-rata peningkatan sekitar 1,5 cm perbulan. Lingkar dada tidak diukur secara teratur setelah periode bayi baru lahir, tetapi ukurannya meningkat saat bayi tumbuh (Hagan et al., 2008).


3.      Maturasi sistem organ
Sistem organ bayi baru lahir dan bayi mengalami perubahan yang signifikan saat bayi tumbuh. Sistem yang mengalami signifikan mencangkup sistem neurologi, sistem kardiovaskular, sistem pernapasan, sistem pencernaan, sistem ginjal, sistem hematopoletik, sistem imunologi dan sistem integument.
a.       Sistem neurologi
Bayi mengalami perubahan sangat besar dalam sistem neurologi pada usia satu tahun pertama. Pertumbuhan otak sangat penting. Pergerakan involunter berkembang menjadi kontrol volunteer, menangis berkembang menjadi kemampuan untuk berbicara sebagai hasil dari perubahan imatur pada sistem neurologi.
1)      Status kesadaran
Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan yang normal bergerak secara berurutan melalui status kesadaran, meskipun belum matang, sudah utuh. Bayi baru lahir yang normal secara berurutan akan melalui enam status kesadaran:
a)      Tidur dalam : bayi berbaring tenang tanpa bergerak
b)      Tidur ringan : bayi dapat sedikit bergerak saat tertidur dan dapat terkejut karena suara bising
c)      Mengantuk : mata dapat menutup, bayi mungkin tertidur sejenak
d)     Status terjaga diam : mata bayi terbuka lebar dan tubuh tenang
e)      Status terjaga aktif : wajah dan tubuh bayi bergerak secara aktif
f)       Menangis : bayi menangis atau menjerit dan bergerak dengan cara yang tidak teratur (Brazelton & Nugent, 1995, hlm.15)
Bayi baru lahir biasanya mengalami perkembangan melalui status ini secara perlahan, dan bukan secara langsung terbangun dari tidur dalam kemudian menangis.
2)      Pertumbuhan otak
Otak mengalami pertumbuhan yang sangat pesat selama usia 2 tahun pertama kehidupan. Pada usia 6 bulan, berat otak bayi adalah setengah dari berat otak orang dewasa. Pada usia 12 bulan, otak telah tumbuh secara bermakna, beratnya 2 ½ kali dari berat otak saat lahir.
Secara umum, sistem neurologi mengalami kematangan dalam jumlah signifikan dalam tahun pertama kehidupan. Mielinasi medulla spinalis dan saraf terus berlanjut sampai usia 2 tahun pertama. Kematangan sistem saraf dan mielinasi lanjutan diperlukan untuk keterampilan perkembangan yang pesat yang dicapai dalam 12 bulan pertama.
3)      Refleks 
Refesk primitive bersifat subkortikal dan melibatkan respons seluruh tubuh. Refleks primitif tertentu yang terdapat saat lahir terdiri dari refleks moro, root, menghisap, leher tonik, asimetrik, genggaman plantar dan palmar, melangkah dan Babinski. Refleks primitif menghilang dalam beberapa bulan pertama kehidupan, memberikan cara untuk refleks protektif. Refleks protektif (juga disebut respons atau refleks postural) merupakan respons motorik kasar yang berhubungan dengan pemeliharaan ekuilibrium. Refleks protektif terdiri dari rekasi righting (menegakkan atau meluruskan kepala) dan parasut. Keberadaan dan menghilangnya refleks primitif, serta perkembangan refleks protektif mengidentifikasikan sistem neurologi yang sehat.
Refleks primitif dan protektif tertentu pada masa bayi
Keterangan
Usia munculnya refleks
Usia menghilangnya refleks
Refleks primitif
Root: ketika pipi bayi diusap, bayi bergerak kearah usapan tersebut, mencari dengan mulutnya
Saat lahir
3 bulan
Menghisap: menghisap secara refleks ketika putting atau jari dimasukkan ke dalam mulut bayi
Saat lahir
2-5 bulan
Moro: dengan ekstensi kepala mendadak, lengan mengalami abduksi dan bergerak ke atas dan tangan membentuk huruf “C”
Saat lahir
4 bulan
Leher tonik asimetrik: ketika berbaring terlentang, ekstremitas diekstensikan ke sisi tubuh tempat kepala yang berbaring dan ekstremitas yang berlawanan difleksikan (disebut sebagai posisi “anggar”)
Saat lahir
4 bulan
Ganggaman palmar: bayi secara refleks menggenggam ketika telapak tangan disentuh
Saat lahir
4-6 bulan
Genggaman plantar: bayi secara refleks menggenggam dengan bagian bawah kaki ketika tekanan diberikan ke permukaan plantar.
Saat lahir
9 bulan
Babinski: mengusap di sepanjang area lateral telapak kaki dan sepanjang permukaan menghasilkan hiperekstensi dan merekahnya jari kaki
Saat lahir
12 bulan
Refleks protektif
Menegakkan leher: leher menjaga kepala tetap berada dalam posisi tegak lurus ketika tubuh dimiringkan
4-6 bulan
Menetap
Parasut (menyamping): ekstensi protektif pada lengan ketika dimiringkan kesamping dalam posisi duduk yang disangga
6 bulan
Menetap
Parasut (kedepan): ekstensi protektif pada lengan ketika diangkat tinggi ke udara dan diayun ke depan. Bayi secara refleks mencapai ke depan untuk menangkap diriny sendiri.
6-7 bulan
Menetap
Parasut (kebelakang): ekstensi protektif pada lengan ketika dimiringkan ke belakang
9-10 bulan
Menetap

b.      Sistem pernapasan
Sistem pernapasan terus mengalami kematangan dalam satu tahun pertama. Kecepatan pernapasan melambat dari 30-60 kali permenit pada bayi baru lahir hingga rata-rata 20-30 kali permenit pada usia 12 bulan. Bayi baru lahir bernapas secara tidak teratur, dengan jeda berkala. Dibandingkan dengan orang dewasa. Bayi memiliki:
1)      Saluran nasal lebih sempit
2)      Trakea dan dinding dada lebih lentur
3)      Bronkus dan bronkeolus lebih pendek dan lebih sempit
4)      Laring berbentuk lebih seperti corong
5)      Lidah lebih besar
Perubahan anatomis ini menempatkan bayi pada resiko untuk mengalami gangguan pernapasan. Kurangnya immunoglobulin A (IgA) dalam lapisan mukosa saluran pernapasan atas juga berkontribusi terhadap seringnya infeksi di masa bayi.
c.       Sistem kardiovaskuler
Ukuran jantung dua kali lebih besar dalam usia satu tahun pertama. Saat sistem kadiovaskular matang, kisaran kecepatan nadi berkurang dari 120 kali sampai 140 kali permenit pada bayi baru lahir menjadi 100 kali permenit pada usia 1 tahun pertama. Kapiler perifer lebih dekat ke permukaan kulit sehingga membuat bayi baru lahir lebih rentan kehilangan panas. Dalam usia satu tahun pertama, termoregulasi menjadi lebih efektif: kapiler perifer mengalami kontriksi sebagai respons terhadap lingkungan dingin dan berdilatasi sebagai respons terhadap panas.
d.      Sistem gastrointestinal
Keberadaan gigi neonatal dikaitkan dengan anomali lahir yang lain. Sebagian besar bayi baru lahir tidak memiliki gigi saat lahir, juga tidak berbentuk dalam usia satu bulan pertama.
1)      Pencernaan
Sistem pencernaan bayi baru lahir belum berkembang secara utuh. Kapasitas lambung relative lebih kecil saat lahir. Namun pada usia 1 tahun lambung dapat mengakomodasi 3 makanan lengkap dan beberapa makanan kudapan perhari. Di dalam duodenum, terdapat tiga buah enzim yang penting untuk pencernaan. Tripsin untuk pencernaan protein setelah bayi lahir. Amilase (dibutuhkan untuk pencernaan karbohidrat kompleks) dan lipase (esensial untuk pencernaan lemak yang sesuai).
Liver (hati) juga belum matang saat lahir. Kemampuan untuk mengonjugasi bilirubin dan menyekresi empedu terjadi pada sekitar usia 2 minggu. Fungsi hati yang lain, mencakup glukoneogenesis, penyimpanan vitamin, dan metabolisme protein tetap belum matang pada usia 1 tahun pertama.
2)      Feses
Feses bayi baru lahir (mekonium) merupakan hasil dari pencernaan cairan amnion yang ditelan di dalam uterus. Meconium berwarna hijau tua sampai hitam dan lengket. Dalam usia beberapa hari pertama, feses menjadi berwarna kekuningan atau coklat. Bayi yang diberikan susu formula memiliki feses yang konsistensinya seperti mentega kacang. Feses bayi yang di susui ASI memiliki tekstur lebih encer dan tampak berbiji. Bayi baru lahir defekasi 8-10 kali sehari atau sedikitnya 1 kali defekasi setiap satu atau dua hari. Bayi baru lahir seringkali mengerang, menggeliat atau menangis saat mencoba defekasi (National Association Of Pediatric Nurse Practitioners, 2011).


e.       Sistem integumen
Bayi dalam rahim tertutup oleh verniks kaseosa, yang melindungi kulit bayi yang sedang tumbuh. Saat lahir, bayi dapat ditutupi dengan verniks (awal usia gestasi) atau verniks dapat ditemukan dilipatan kulit, aksila dan area selangkangan (usia gestasi lanjut). Produksi verniks berkurang saat lahir. Rambut halus (lanugo) menutupi tubuh bayi baru lahir.
Akrosianosis (kebiruan pada tangan dan kaki) normal pada bayi baru lahir; akrosianosis berkurang pada beberapa hari pertama. Kulit bayi baru lahir relative lebih tipis dari pada kulit orang dewasa.
f.       Sistem hematopoietik
Saat lahir hemoglobin janin (HgbF) terdapat dalam jumlah besar. Setelah lahir produksi hemoglobin janin hampir habis dan hemoglobin dewasa (HgbA) dihasilkan dalam jumlah yang secara terus menerus meningkat selama 6 bulan pertama (Glader, 2007).
g.      Sistem imunologi
Bayi baru lahir mendapat sejumlah besar IgG melalui plasenta dari ibu. Ini memberikan imunitas selama 3-6 bulan pertama kehidupan terhadap antigen yang sebelumnya dipajankan oleh ibu. Bayi kemudian menyintesis IgG sendiri, yang mencapai sekitar 60% dari kadar orang dewasa diusia 12 bulan (Harrison, 2009). IgM diproduksi dalam jumlah besar setelah lahir, mencapai kadar orang dewasa pada usia 9 bulan. Produksi IgA, IgD, dan IgE meningkat dengan sangat bertahap, yang mencapai kematangan di awal masa kanak-kanak (Feigin et al., 2009)
4.      Perkembangan psikososial, motorik, perkembangan sensorik, komunikasi dan bahasa, sosial dan emosional
a.       Psikososial
Menurut (Keyle, 2015) bayi berada pada periode percaya versus tidak percaya. Erikson (1963) bayi bergantung sepenuhnya pada orang tua atau pemberi asuhan. Pemberi asuhan berespon terhadap kebutuhan dasar bayi dengan memberi makan, mengganti popok, membersihkan dan menyentuh serta berbicara kepada bayi. Tindakan ini menimbulkan rasa percaya pada bayi. Apabila hal ini diabaikan akan memunculkan rasa tidak percaya pada bayi. Berikut ini adalah aktivitas yang meningkatkan sensasi percaya di masa bayi :
Ahli teori
Tahap
Aktivitas
Psikososial (E.Erikson)
Percaya vs tidak percaya (lahir – 1 tahun)
Pengasuh berespon terhadap kebutuhan bayi dengan memberi makan, mengganti popok, membersihkan, menyentuh, memegang, berbicara dengan bayi. Ini menciptakan sensasi percaya pada bayi.
Saat sistem saraf matang, bayi menyadari bahwa mereka adalah manusia yang terpisah dari pengasuh mereka.
Perkembangan kognitif ( J. Piaget)
Sensori Motor (lahir – 2 tahun)

Subtahap 1: menggunakan refleks (lahir – 1 bulan)
Bayi menggunakan sensasi / indra dan keterampilan motorik untuk mempelajari tentang dunia.
Refleks menghisap membawa kesenangan menelan nutrisi. Bayi mulai mendapatkan kontrol terhadap refleks dan mengenali objek-objek, bau dan suara yang familiar (sudah mereka kenal).
Psikoseksual (Sigmund Freud)
Fase Oral (lahir – 1 tahun)
Kesenangan berfokus pada aktivitas oral: pemberian makan dan menghisap.
Diadaptasi dari Erikson, E.H. (1963). Childhood and society (2nd ed). New York: W. W. Norton and Company; Goldson, E & Reynolds, A. (2011).

b.      Motorik
Pada masa bayi baru lahir (0 sampai 28 hari), terjadi adaptasi terhadap lingkungan dan terjadi perubahan sirkulasi darah serta mulainya berfungsi organ-organ. Setelah 29 hari sampai dengan 11 bulan, terjadi proses pertumbuhan yang pesat dan proses pematangan yang berlangsung secara terus menerus terutama meningkatnya fungsi sistem syaraf. Kemampuan yang dimiliki bayi yaitu kemampuan motorik.
Kemampuan motorik merupakan sekumpulan kemampuan untuk menggunakan dan mengontrol gerakan tubuh, baik gerakan kasar maupun gerakan halus. Motorik kasar merupakan keterampilan menggerakkan bagian tubuh secara harmonis dan sangat berperan untuk mencapai keseimbangan yang menunjang motorik halus. Motorik halus merupakan keterampilan yang menyatu antara otot halus dan panca indera. Kemampuan motorik selalu memerlukan koordinasi bagian-bagian tubuh, sehingga latihan untuk aspek motorik ini perlu perhatian.
Kemampuan motorik pada bayi berdasarkan usia yakni:
Usia
Motorik kasar
Motorik halus
0-3 bulan
mengangkat kepala, guling-guling, menahan kepala tetap tegak.
Melihat, meraih, memperhatikan benda bergerak, melihat benda-benda kecil, memegang benda.
3-6 bulan
Menyangga berat, mengembangkan kontrol kepala, duduk.
Memegang benda dengan kuat, memegang benda dengan kedua tangan, mengambil benda-benda kecil.
6-9 bulan
Merangkak, menarik ke posisi berdiri, berjalan berpegangan, berjalan dengan bantuan.
Memasukkan benda kedalam wadah, bermain 'genderang', memegang alat tulis, bermain mainan yang mengapung di air, membuat bunyi-bunyian, menyembunyikan dan mencari mainan.
9-12 bulan
Bermain bola, membungkuk, berjalan sendiri, naik tangga. 
Menyusun balok/kotak, menggambar, bermain di dapur.  

c.       Perkembangan sensorik
1)      Penglihatan
Bayi baru lahir hanya dapat melihat dalam jarak dekat, melihat objek dengan jarak 20,3 sampai 38,1 cm. Bayi baru lahir memilih melihat wajah manusia dari pada benda lain. Mata bayi baru lahir bergerak ke segala arah dan terkadang juling.
2)      Pendengaran
Pendengaran bayi baru lahir utuh saat lahir dan sama akutnya seperti orang dewasa. Pada usia 1 bulan, bayi dapat mengenali suara orang yang paling dikenalnya.
3)      Penciuman dan pengecapan 
Indra penciuman terbentuk dengan cepat: bayi berusia 7 hari dapat membedakan antara bau ASI ibu mereka dari bau wanita lain dan akan memilih ke arah ibu. Bayi baru lahir memilih rasa manis dibanding rasa lain.
4)      Perabaan
Indra peraba adalah indra yang paling penting dari semua indra untuk komunikasi dengan bayi baru lahir. Bayi tidak menyukai disentuh secara kasar dan dapat menangis. Mendekap/memeluk, mengusap, mengayun atau menimang. Bayi belajar memahami alam perasaan pengasuh mereka melalui cara mereka menyentuh bayi.
d.      Komunikasi dan bahasa
Selama beberapa bulan, menangis adalah satu-satunya cara komunikasi untuk bayi baru lahir. Alasan dasar bayi menangis adalah kebutuhan yang tidak terpenuhi.
e.       Sosial dan emosional
Bayi baru lahir menghabiskan sebagian waktu untuk tidur, tetapi bayi usia 2 bulan siap untuk mulai bersosialisasi.
5.      Masa Neonatus
Pada masa neonatus ini terbagi dalam dua masa, yaitu antara lain :
a.       Masa Portunate
Masa portunate pada bayi berlangsung antara 15 - 30 menit pertama sejak bayi lahir sampai tali pusatnya dipotong. Tindakan-tindakan atau bantuan yang diberikan pada bayi baru lahir (BBL) antara lain :
1)      Membersihkan muka bayi, daerah mata, hidung dan mulut
2)      Melaksanakan penilaian APGAR Skor pada menit pertama dan  menit kedua. APGAR Skor meliti A= Apperence (Warna Kulit), Pulse = Denyut Jantung, Gremace (Kepekaan Refleks), A= Activity (Tonus Otot/Keaktifan Bayi), R= Respiratory (Usaha Nafas-Pernafasan)
3)      Membebaskan jalan nafas bayi dengan cara ; menghisap lendir, darah, air ketuban yang terhisap bayi
4)      Memotong tali pusat bayi yang terhubung dengan ari-ari sehingga ibu dan bayi terpisah, mengikat dan merawat tali pusat
5)      Membersihkan badan bayi dari segala kotoran dengan menggunakan air hangat, sabun
6)      Membungkus badan bayi agar tidak kedinginan
7)      Membawa bayi ke ibunya untuk disusukan dan agar ibu lebih kenal lebih dini dengan bayinya
8)      Melaksanakan pengukuran anthropometris bayi meliputi panjang badan, berat badan, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar lengan
9)      Melakukan pemeriksaan pada seluruh tubuh bayi untuk mengetahui apakah bayi lahir dalam kondisi cacat/tidak yang meliputi pemeriksaan pada ; anus, sekitar kepala, anggota gerak dan anggota tubuh lainnya
10)  Memberi dan memakaikan pakaian bayi
11)  Memasang dan memberi identitas bayi dan merawat mata dalam keadaan bersih, rapi dan terbungkus hangat bayi dibawa ke ruang perawatan.
b.      Masa Neonate
Masa neonate berlangsung pada saat pengguntingan tali pusat, anak menjadi individu yang terpisah dan "berdiri sendiri". 
Masa ini ditandai dengan penyesuaian terhadap lingkungan baru. Menurut kriteria kesehatan penyesuaian tercapai ditandai dengan terlepasnya tali pusat. Sedangkan menurut kriteria psikologi, penyesuaian tercapai apabila telah mencapai kembali berat badan yang berkurang setelah lahir dan mulai menampakkan tanda-tanda kemajuan perkembangan dalam tingkah laku (masa plateu). 4 (empat) penyesuaian utama yang harus dilakukan sebelum anak dapat memperoleh kemajuan perkembangan tingkah laku, yaitu :
1)      Perubahan suhu dalam rahim ibu dengan suhu lingkungan
2)      Perubahan pernafasan, sebelum lahir bayi bernafas dengan plasenta dan setelah lahir bernafas dengan paru-paru.
3)      Menghisap dan menelan sebagai cara untuk memperoleh makanan yang semula dari plasenta melalui tali pusat.
4)      Cara pembuangan melalui organ-organ sekresi yang mana sebelum lahir melalui plasenta dan tali pusat.
Hari pertama sampai dengan minggu kedua dari kelahiran, berat badan bayi akan menurun karena bayi mulai kehilangan cairan melalui buang air besar dan kecil, melalui keringat, uap air melalui pernafasan sedangkan pemasukan tidak mencukupi, sebab pemasukan air susu ibu (ASI) masih kurang.
Pada masa neonatus, bayi akan lebih banyak tidur dan untuk mempertahankan hidupnya neontaus diperalati dengan beberapa kemampuan seperti : insting, refleks dan kemampuan untuk belajar 
6.      Faktor bayi baru lahir resiko tinggi
a.       Asfiksia neonatorum
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul (llyasjumiarni, 1994., hlm: 77)
b.      Infeksi neonatorum
Inkfesi Neonatorum atau Sepsis adalah infeksi bakteri umum generalisata yang biasanya terjadi pada bulan pertama kehidupan. yang menyebar ke seluruh tubuh bayi baru lahir. Sepsis adalah sindrom yang dikarakteristikan oleh tanda-tanda klinis dan gejala-gejala infeksi yang parah yang dapat berkembang ke arah septisemia dan syok septik. (Doenges, Marylyn E. 2000,). Septisemia menunjukkan munculnya infeksi sistemik pada darah yang disebabkan oleh penggandaan mikroorganisme secara cepat dan zat-zat racunnya yang dapat mengakibatkan perubahan psikologis yang sangat besar. Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab dari 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2,75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki. Pada lebih dari 50% kasus, sepsis mulai timbul dalam waktu 6 jam setelah bayi lahir, tetapi kebanyakan muncul dalam waktu 72 jam setelah lahir.
c.       Hipoglikemia
Istilah hipoglikemia merujuk pada kadar glukosa yang rendah. Hipoglikemia sesaat pada awal kehidupan neonates cukup bulan merupakan hal yang wajar, sering didapatkan dan terjadi pada hamper seluruh bayi baru lahir. Hal ini akan normal dengan sendirinya dan bukanlah sesuatu yang patologis karena kadar glukosa darah meningkat secara spontan dalam 2-3 jam. Dalam situasi dimana kadarglukosa darah yang rendah karena belum mendapat asupan makanan (ASI belum ada) terjadi respon ketogenik yaitu metabolism dari asam lemak menjadi badan keton.  Otak bayi dengan kemampuannya akan memanfaatkan badan keton untuk menghemat glukosa bagi otak dan melindungi fungsi neurologis bayi.
Bayi yang mendapat ASI cenderung mempunyai kadar glukosa yang rendah dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu formula, tetapi tidak berkembang menjadi hipoglikemia simptomatik. Pemberian minum awal dengan ASI yang mengandung alanin, asam lemak rantai panjang dan laktosa, akan meningkatkan proses glukoneogenesis. Bayi cukup bulan  yang minum ASI mempunyai kadar glukosa yang lebih rendah tetapi mempunyai kadar badan keton yang lebih tinggi.
Hipoglikemia ditandai oleh nilai yang unik pada masing-masing individu neonates dan bervariasi sesuai dengan kematangan fisiologis dan pengaruh patologisnya. Hipoglikemia  pada bayi terjadi bila kadar glukosa darah < 45mg/dL.
d.      Ikterus
Ikterus adalah warna kuning yang tampak pada kulit dan mukosa karena peningkatan bilirubin. Biasanya mulai tampak pada kadar  bilirubin serum > 5 mg/dL. Ikterus fisiologis :
1)      Ikterus terlihat pada hari ke 2-3, biasanya mencapai puncaknya antara hari ke 2-4 dan menurun kembali dalam minggu pertama setelah lahir
2)      Kadar bilirubin indirect tidak melebihi 10mg/dL pada neonates cukup bulan dan 12 mg/dL untuk neonates lebih bulan.
3)      Kecepatan Peningkatan kadar  bilirubin serum tidak melebihi 5mg/dL perhari.
Ikterus patologis :
1)      Ikterus terjadi pada 24 jam pertama kehidupan.
2)      Peningkatan kadar bilirubin serum sebanyak 5mg/dL atau lebih setiap 24 jam
3)      Kadar bilirubin direct < 2mg/dL
4)      Ikterus yang disertai oleh: berat lahir <2000 gram, Asfiksia, Infeksi, trauma lahir pada kepala, hipoglikemia.
5)      Bilirubin total/indirek untuk bayi cukup bulan > 13 mg/dL atau bayi kurang bulan >10 mg/dL
e.       Hipotermi
Hipotermi pada bayi baru lahir adalah suhu tubuh dibawh 36,5o C pengukuran dilakukan pada ketiak selama 3-5 menit. Hipotermi disebabkan oleh :
1)      Evaporasi, terjadi apabila bayi lahir tidak segera dikeringkan
2)      Konduksi, terjadi apabila bayi diletakkan ditempat dengan alas yang dingin, seperti pada waktu menimbang bayi
3)      Radiasiterjadi apabila bayi diletakkan diudara lingkungan dingin.
4)      Konveksi, terjadi apabila bayi berada dalam ruangan ada aliran udara karena pintu, jendela terbuka (Reeder, 2011).
1)      Pencegahan Infeksi
a)      Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi
b)      Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan
c)      Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem, gunting, penghisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau steril.
d)     Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk bayi, sudah dalam keadaan bersih. Demikin pula dengan timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop
e)      Memberikan vitamin K untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir normal atau cukup bulan perlu di beri vitamin K per oral 1 mg / hari selama 3 hari, dan bayi beresiko tinggi di beri vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 – 1 mg IM.
f)       Memberikan obat tetes atau salep mata : Untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual) perlu diberikan obat mata pada jam pertama persalinan, yaitu pemberian obat mata eritromisin 0.5 % atau tetrasiklin 1 %, sedangkan salep mata biasanya diberikan 5 jam setelah bayi lahir. Perawatan mata harus segera dikerjakan, tindakan ini dapat dikerjakan setelah bayi selesai dengan perawatan tali pusat yang lazim dipakai adalah larutan perak nitrat atau neosporin dan langsung diteteskan pada mata bayi segera setelah lahir (Reeder, 2003., hlm: 121).
1)      Sel Darah Putih 18000/mm3, Neutropil meningkat sampai 23.000-24.000/mm hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis)
2)      Hemoglobin 14,5 - 22,5g/dl
3)      Hematokrit 44% - 72% (peningkatan 65% atau lebih menandakan polisitemia, penurunan kadar gula menunjukan anemia/hemoraghi prenatal)
4)      Essai Inhibisi guthriel tes untuk adanya metabolit  fenillalanin, menandakan fenil ketonuria
5)      Bilirubin total 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan 8 mg/dl 1 - 2 hari dan 12 mg/dl pada 3 - 5 hari.
6)      Detrosik: Tetes glukosa selama 4 - 6 jam pertama setelah kelahiran rata-rata 40-50 mg/dl,meningkat 60 -70 mg/dl pada hari ke 3.
7)      SDM 5 – 7,5 juta/mm3 . (Bobak, 2004).
B.     Asuhan Keperawatan Bayi Baru Lahir
1.      Pengkajian bayi baru lahir dan pencegahan masalah kesehatan pada neonatus
a.       Pengkajian fisik bayi baru lahir
Pemeriksaan pertama pada bayi baru lahir harus dilakukan di kamar bersalin. Perlu mengetahui riwayat keluarga, riwayat kehamilan sekarang dan sebelumnya dan riwayat persalinan. Pemeriksaan dilakukan bayi dalam  keadaan telanjang dan dibawah  lampu yang terang. Tangan serta alat yang digunakan harus bersih dan hangat.
Tujuan pemeriksaan ini adalah :
1)      Menilai gangguan adaptasi bayi baru lahir dari kehidupan dalam uterus ke luar uterus yang memerlukan resusitasi.
2)      Untuk menemukan kelainan seperti cacat bawaan yang perlu tindakan segera.
3)      Menentukan apakah bayi baru lahir dapat dirawat bersama ibu (rawat gabung) atau tempat perawatan khusus.
Pemeriksaan yang dilakukanyaitu :
Penilaian APGAR score menurut (Saifuddin, 2006) hal: 248-249
Tanda
Skore 0
Skore 1
Skore 2
Appearance /warna kulit
Badan biru/pucat
Tubuh kemerahan, ektremitas biru
Merah seluruh tubuh
Pulse rate/frekuensi nadi
Tidak ada
Kurang dari 100
Lebih dari100
Grimance/reaksi rangsangan
Tidak ada
Sedikit gerakan mimik (grimace)
Batuk/bersin
Activity/tonus otot
Lunglai/lemas
Ektremitas dalam sedikit fleksi
Bergerak aktif
Respiration/pernapasan
Tidak ada
Menangis lemah, tidak teratur
Baik atau Menangis kuat

Keterangan :
Keadaan umum bayi di nilai satu menit setelah lahir dengan penggunaan nilai apgar. Penilaian ini perlu untuk mengetahui apakah bayi menderita asfiksia ataua tidak. Yang dinilai ialah frekuensi jantung (heart rate), usaha napas (respiratory effort), tonus otot (muscle tone) ,warna kulit (colour) dan reaksi terhadap rangsangan (response tostimuli) yaitu dengan memasukkan kateter ke lubang hidung setelah jalan napas dibersihkan. Setiap penilaian diberi angka 0,1,dan 2. Dari hasil penilaian tersebut dapat diketahui apakah bayi normal (vigorous baby = nilai Apgar 7-10), asfiksia sedang-ringan (nialai Apgar 4-6) atau bayi menderita asfiksia berat (nilai 0-3). Bila nilai Apgar dalam 2 menit tidak mencapai nilai 7, maka harus dilakukan tindakan resusitasi lebih lanjut oleh karena bila bayi menderita asfiksia lebih dari 5 menit.
1)      Pemeriksaan fisik  bayi baru lahir
Pemeriksaan ini harus dilakukan dalam 24 jam dan dilakukan setelah bayi berada di ruang perawatan. Tujuan pemeriksaan untuk mendeteksi kelainan yang mungkin terabaikan pada pemeriksaan di kamar bersalin.
Pengkajian
Temuan biasa
Variasi umum/abnormalitas minor
Tanda potensial kegawatan/abnormalitas utama
Pengukuran umum
·      Lingkar kepala 33-35 cm
·      Lingkar dada 30,5-33 cm
·      Lingkar kepala kira-kira 2-3 cm lebih besar dari lingkar dada
·      Panjang kepala ke tumit 48-53 cm
·      Berat badan lahir 2700-4000 g
·         Molding setelah kelahiran dapat mengubah/menurunkan lingkar kepala
·         Lingkar kepala dan lingkar dada mungkin sama untuk 1-2 hari setelah kelahiran
·         Berat badan menurun 10% dalam 1 minggu pertama; meningkat kembali dalam 10-14 hari.

·         Lingkar kepala < persentil ke 10 atau > persentil ke 90
·         Berat badan lahir < persentil ke 10 atau > persentil ke 90
Tanda Vital
·      Suhu




·      Frekuensi jantung









·      Napas









Aksila 36,5°-37° C





Apikal 120-140 denyut/menit









30-60 kali/menit











·         Menangis dapat meningkatkan suhu tubuh
·         Radian penghangat akan meningkatkan suhu aksila
·         Menangis akan meningkatkan frekuensi jantung; tidur akan menurunkan frekuensi jantung
·         Selama periode reaktivitas (6-8 jam), frekuensi dapat mencapai 180 denyut/menit.
·         Menangis akan meningkatkan frekuensi pernapsan; tidur akan menurunkan frekuensi pernapasan
·         Selama periode reaktivasi (6-8 jam), frekuensi dapat mencapai 80 kali/menit
·         Hipotermi
·         Hipertermi




·         Bradikardi – frekuensi istirahat dibawah 80-100 denyut permenit
·         Takikardi – frekuensi 160-180 denyut permenit
·         Irama tidak teratur



·         Takipnea – frekuensi dibawah 60 kali/menit
·         Apnea > 15-20 detik
Penampilan umum
Postur – fleksi kepala dan ekstremitas, dengan istirahat telentang dan telungkup
Frank breech – kaki diekstensikan, diabduksikan dan paha dirotasi penuh, oksiput didatarkan, leher diekstensikan
·         Postur timpang, ekstensi ekstremitas
Kulit
·      Pada saat lahir merang terang, halus
·      Hari kedua sampai ketiga merah muda, mengelupas, kering
·      Verniks kaseosa
·      Lanugo
·      Edema disekitar mata, wajah, skrotum/labia
·      Perubahan warna normal: akrosianosis-sianosis tangan dan kaki
·         Ikterik neonatus setelah 48 jam pertama
·         Ekimosis/petekie karena trauma kelahiran
·         Milia: kelenjar sebasea terdistensi tampak sebagai papula putih kecil pada pipi, dagu, hidung
·         Miliaria/sudamina: kelenjar keringat terdistensi yang tampak sebagai vesikel menit, khususnya pada wajah.
·         Ikterik berlanjut, pada 24 jam pertama
·         Kulit memucat
·         Sianosis
·         Keabu-abuan
·         Hemoragi, ekimosis, petekie yang menetap
·         Sklerema- kulit keras dan kaku
Kepala
·      Fontanel anterior- bentuk berlian 2,5-4,0 cm
·      Fontanel posterior – bentuk segitiga 0,5-1 cm
·      Fontanel harus datar, lunak dan padat
·      Bagian terlebar dari fontanel diukur dari tulang ke tulang, bukan dari sutura ke sutura
·         Molding setelah persalinan veginal
·         Penonjolan fontanel karena menangis atau batuk
·         Kaput suksedaneum – edema jaringan kulit kepala yang lunak yang melewati garis sutura
·         Sefalhematoma – diantara periosteum dan tulang tengkorak yang dibatasi dengan batas khusus dan tidak melewati garis sutura
·         Sutura menyatu
·         Penonjolan fontanel ketika bayi tenang
·         Pelebaran sutura dan fontanel
·         Kraniotabes – sensasi tajam sepanjang sutura lamdoidal yang mirip lekukan bola pingpong

Mata
·      Kelopak biasanya edema
·      Mata biasanya tertutup
·      Tidak ada air mata
·      Adanya refleks merah
·      Refleks kornea sebagai respon terhadap sentuhan
·      Refleks pupil sebagai respon terhadap cahaya
·      Refleks berkedip sebagai respon terhadap cahaya/sentuhan
·      Fiksasi rudimenter pada objek dan kemampuan untuk mengikuti ke garis tengah
·         Lipatan epikantus pada bayi Orietal
·         Nistagmus/strabisms

·         Warna merah muda dari iris
·         Rabas purulent
·         Pandangan ke atas pada non oriental
·         Hipertelorisme
·         Hipotelorisme
·         Katarak kongenital
·         Pupil kontriksi atau dilatasi
·         Tidak ada refleks pupil atau kornea
·         Tidak ada refleks merah
·         Ketidak mampuan mengikuti objek cahaya terang ke garis tengah
·         Sclera kuning
Telinga
·      Posisi-puncak pinna berada pada garis horizontal
·      Refleks moro/terkejut ditimbulkan bunyi keras dan tiba-tiba
·      Pina lentur, adanya kartilago
·         Pina datar sejajar kepala
·         Bentuk atau ukuran tidak teratur
·         Bercak atau bintik kulit
·         Sinus preaurikuler
·         Penempatan telinga terlalu rendah
·         Abnormalitas pina minor dapat terjadi tanda dari berbagai sindrom
Hidung
·      Patensi nasal
·      Rabas nasal-mukus putih encer
·      Bersin
·         Datar dan memar
·         Kanal tidak paten
·         Rabas nasal kental dan berdarah
·         Pelebaran cuping hidung
·         Sekresi nasal berlebih atau tersumbat
·         Tidak ada septum
Mulut dan tenggorokan
·      Utuh, palatum arkus tinggi
·      Uvula di garis tengah
·      Frenulum lidah
·      Frenum bibir atas
·      Refleks menghisap kuat
·      Saliva minimal/tidak ada
·      Menangis keras
·         Gigi natal
·         Epstein pearls- kista epitel kecil dan putih disepanjang garis tengah palatum keras
·         Bibir sumbing
·         Palatum terbelah
·         Lidah besar, menjulur/kesalahan posisi posterior dari lidah
·         Sariawan

Leher
·      Pendek, gemuk, biasanya dikelilingi oleh lipatan kulit
·      Refleks leher tonik
·      Neck-righting
·      Otolith-righting
·         Leher miring kepala menengok ke salah satu sisi dengan dagu mengarah ke sisi yang berlawanan
·         Tahanan terhadap fleksi
·         Tidak ada leher tonik, neck righting, otolith righting, klavikula fraktur
Dada
·      Diameter anteroposterior dan lateral sama
·      Pembesaran dada
·      Terlihat prosesus xifoideus
·      Pembesaran dada
·         Dada corong
·         Dada burung
·         Putting supernumerary
·         Sekresi seperti senyawa susu dari payudara 
·         Retraksi dada dan ruang intercostal selama pernapsan
·         Ekspansi dada asimetrik
·         Putting berjarak jauh.
Paru-paru
·      Pernapasan abdominal
·      Refkleks batuk tidak ada saat lahir, ada setelah 1-2 hari
·      Bunyi napas bronkial sama secara bilateral
·         Frekuensi pernapsan tidak teratur, pernapasan periodic
·         Crackles sesaat saat lahir
·         Inspirasi stidor
·         Ekspirasi mengorok
·         Bunyi napas tidak sama
·         Crackles halus menetap mengi
·         Penurnan bunyi napas
·         Takipnea (> 60 napas permenit)
Jantung
·      Apeks-ruang intercostal ke empat sampai kelima, sebelah lateral batas kiri sternum
·      Nada S2 sedikit lebih tajam dan lebih tinggi dari pada S1
·         Sinus aritmia- pernapasan meningkat selama inspirasi dan menurun selama ekspirasi
·         Sianosis saat menangis segera setelah lahir
·         Dekstrokardia
·         Kesalahan posisi impuls apical
·         Kardiomegali
·         Murmur
·         Sianosis menetap
Abdomen
·      Bentuk silindris
·      Hepar dapat teraba 2-3 cm dibawah marjin kostal kanan
·      Limpa dapat diraba pada akhir minggu pertama
·      Ginjal dapat diraba 1-2 cm diatas umbilikus
·      Pusat umbilikus berwarna putih kebiruan memiliki 2 arteri dan 1 vena
·      Nadi femoral bilateral sama
·         Hernia umbilikus
·         Diastasis rekti-kesenjangan garis tengah antara otot-otot rektum
·         Distensi abdomen
·         Penonjolan setempat
·         Distensi vena
·         Bising usus tidak ada
·         Pembesaran hepar dan limpa
·         Tali umbilikus hijau
·         Urine atau feses bocor dari tali pusat
·         Distensi kandung kemih
·         Nadi femoral tidak ada
Genetalia wanita
·      Labia dan klitoris biasanya edema
·      Labia minora lebih besar dari labia mayora
·      Meatus uretral di belakang klitoris
·      Verniks kaseosa di antara labiya
·      Berkemih dalam 24 jam
·         Rabas bercak darah atau mukoid
·         Selaput himen
·         Genetalia ganda
·         Pembesaran klitoris
·         Labia menyatu
·         Tidak ada lobang vagina
·         Rabas fekal dari lubang vagina
·         Tidak berkemih dalam 24 jam
·         Massa pada labia
Genetalia pria
·      Lubang uretra pada puncak glen penis
·      Testis dapat diraba dalam setiap skrotum
·      Smegma
·      Berkemih dalam 24 jam 
·         Lubang uretral tertutup prepusium
·         Mutiara epithelial
·         Ereksi atau priapisme
·         Testis dapat diraba pada kanal inguinalis
·         Skrotum kecil
·         Hipospadia
·         Epispadia
·         Chordee
·         Kanalis inguinalis
·         Tidak ada urine dalam 24 jam
·         Hernia inguinalis
·         Massa dalam skrotum
·         Genetalia ganda
Punggung dan rectum
·      Spina utuh tidak ada lubang, masa, atau kurva menonjol
·      Wink anal
·      Lubang anal paten
·      Lintasan meconium dalam 36 jam
·         Feses cair hijau pada bayi di bawah fototerapi
·         Fisura anal atau fistula
·         Anus imperforate
·         Tidak ada wink anal
·         Tidak ada meconium dalam 36 jam
·         Kista pilonidal atau anus
·         Spina bifida
Ekstremitas
·      Sepuluh jari tangan dan kaki
·      Rentang gerak penuh
·      Punggung kuku merah muda
·      Fleksi ekstremitas atas dan bawah
·      Telapak datar
·      Ekstremitas simetris
·      Nadi brakialis bilateral sama
·         Sindaktili parsial antara jari kaki kedua dan ketiga
·         Jari kaki tumpang tindih
·         Panjang jari kaki asimetris
·         Dosofleksi dan pemendekan haluks (jari besar)
·         Polidaktili
·         Sindaktili
·         Fokomelia
·         Hemimelia
·         Hiperfleksibilitas sendi
·         Fraktur
·         Dislokasi
·         Tinggi lutut tidak sama
·         Ekstremitas asimetri
·         Tonus otot atau rentang gerak tidak sama
Sistem neuromuskuler
·      Ektremitas mempertahankan derajat fleksi
·      Ekstensi diikuti fleksi seblmnya
·      Mampu memutar kepala dari satu sisi kesisi lain ketika tengkurap
·      Mampu menahan kepala dalam garis horizontal dengan punggung bila tengkurap
·         Tremor atau gemetar sebentar
·         Hipotonia
·         Hypertonia
·         Postur asimetris
·         Postur opistotonik
·         Tanda paralisis
·         Tremor, kedutan

b.      Diagnosa Keperawatn

1)      Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan mucus berebihan, posisi tidak tepat

Sasaran pasien: pasien mempertahankan jalan napas yang paten

Intervensi keperawatan/Rasional :

a)      Hisap mulut dan nasofaring dengan spuit bulb sesuai kebutuhan
b)      Tekan bulb sebelum memasukkan dan mengaspirasi faring, kemudian hidung untuk mencegah aspirasi cairan
c)      Dengan alat penghisap mekanis, batasi setiap upaya penghisapan sampai 5 detik dengan waktu yang cukup untuk memungkinkan reoksigenasi
d)     Posisikan bayi miring ke kanan setelah memberikan makan untuk mencegah aspirasi
e)      Lakukan sedikit mungkin prosedur pada bayi selama jam pertama dan sediakan oksigen untuk digunakan bila terjadi distress pernapasan
f)       Bersihkan lubang hidung dari sekresi kering selama mandi
g)      Periksa kepatenan lubang hidung
Hasil yang diharapkan: jalan napas tetap paten, pernapasan teratur dan tidak sulit, frekuensi napas dalam batas normal.
2)      Resiko tinggi perubahan suhu tubuh berhubungan dengan kontrol suhu yang imatur, perubahan suhu lingkungan
Sasaran pasien: pasien mempertahankan suhu tubuh yang stabil
Intervensi keperawatan/Rasional :
a)      Selimuti bayi rapat dengan selimut hangat
b)      Tempatkan bayi dalam lingkungan yang dihangatkan sebelumnya atau pada lengan orang tua.
c)      Pertahankan temperature ruangan antara 24° C dan 25,5° C dan kelembaban sekitar 40%-50%
d)     Beri pakaian dan popok bayi dan bedong dengan selimut
e)      Berikan penutup kepala pada bayi
f)       Dekap bayi diantara payudara ibu dengan posisi bayi telungkup dan posisi kaki   seperti kodok serta    kepala menoleh ke satu sisi
g)      Metode kangguru bisa dilakukan dalam posisi ibu tidur dan istirahat
h)      Waspada terhadap tanda hipotermi atau hipertermia
Hasil yang diharapkan: suhu bayi tetap pada tingkat optimal (36,5°C-37,5°C)
3)      Resiko tinggi infeksi atau inflamasi berhubungan dengan kurangya pertahanan imunologis, faktor lingkungan, penyakit ibu
Sasaran pasien: pasien tidak menunjukkan bukti infeksi
Intervensi keperawatan/Rasional:
a)      Cuci tangan sebelum dan setelah merawat bayi
b)      Pakai sarung tangan ketika kontak dengan sekresi tubuh
c)      Periksa mata setiap hari untuk melihat adanya tanda-tanda inflamasi
d)     Jaga bayi dari sumber potensial infeksi
e)      Pertahankan asepsis dan sirkumsisi
f)       Pertahankan potongan umbilikus bersih dan kering
Hasil yang diharapkan: bayi tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi/implamasi, mata tetap bersih tanpa iritasi, funikulus tampak kering, area sekitar bebas dari infeksi.
4)      Resiko tinggi trauma berhubungan dengan ketidak berdayaan fisik
Sasaran pasien: pasien diidentifikasi dengan jelas dan benar
Intervensi keperawatan/Rasional:
a)      Pastikan bayi diidentifikasi dengan tepat untuk ditempatkan dengan ibu yang tepat
b)      Periksa gelang ID bayi dengan sering untuk menjamin identitas bayi yang benar
c)      Observasi tanda identitas staf dan berikan bayi hanya pada personel yang teridentifikasi
d)     Hindari penggunaan thermometer rektal
e)      Jaga agar kuku jari tetap pendek dan tumpul
f)       Lakukan metode yang tepat dalam penanganan dan pemindahan bayi
Hasil yang diharapkan: bayi diidentifikasi dengan jelas dan tepat, pasien tidak mengalami cedera fisik
5)      Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh (resiko tinggi) berhubungan dengan imaturitas, kurangnya pengetahuan orang tua
Sasaran pasien: pasien mendapat nutrisi yang optimal
Intervensi keperawatan/Rasional:
a)      Kaji kekuatan menghisap dan koordinasi dengan menelan
b)      Timbang berat badan bayi saat menerima di ruang perawatan dan setelah itu setiap hari
c)       Auskultasi bising usus
d)     Siapkan untuk pemberian makan yang dibutuhkan seperti ASI; pemberian makan malam ditentukan oleh kondisi dan keinginan ibu
e)      Dukung dan bantu ibu menyusui selama pemberian makan awal dan lebih sering bila perlu
f)       Hindari pmberian makanan suplemen untuk bayi yang minum ASI
g)      Dorong ayah untuk tetap bersama ibu agar membantu ibu dan bayi dalam merubah posisi, relaksasi
h)      Tempatkan bayi miring ke kanan setelah makan untuk mecegah aspirasi
i)        Observasi pola feses
Hasil yang diharapkan: bayi menunjukkan penghisapan yang kuat, bayi tetap mendapat makanan, bayi mendapat nutrisi yang cukup, berat badan bayi kurang dari 10% berat badan lahir.
2.      Promosi Kesehatan pada ibu dan keluarga dengan perkembangan Neonatus
a.       Pencegahan infeksi
1)      Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi
2)      Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk bayi, sudah dalam keadaan bersih.
3)      Usahakan agar tali pusat tetap kering.
b.      Menjaga suhu bayi agar tetap hangat. Untuk menjaga  suhu bayi tetap hangat melalui upaya berikut:
1)      Keringkan bayi dengan seksama
Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi memulai pernapasannya
.
2)      Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat
Ganti handuk atau kain yang telah basah oleh cairan ketuban dengan selimut atau kain yang baru (hanngat, bersih, dan kering)
.
3)      Selimuti bagian kepala bayi
Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yg relative luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup
.
4)      Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas. Sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu jam pertama kelahiran.
jangan memandikan bayi di tempat yang terbuka
Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya, maka dari itu agar suhu tubuh bayi tetap hangat sebaiknya memandikan bayi pada lingkungan yang tertutup dengan menggunakan air hangat.
c.       Merawat tali pusat
1)      Pastikan tali pusat tetap kering.
2)      Bersihkan dan keringkan pangkal tali pusat termasuk daerah sekitarnya dan lipatan-   lipatan pusar dengan perlahan. Lakukan dua kali sehari
3)      Tidak perlu membubuhi apapun.
4)      Perhatikan dan waspadai jika kondisinya, ada nanah atau darah di daerah ini, tali pusat bengkak dan memerah, tali pusat tidak putus dalam 4 minggu atau keluar bau tidak sedap. Segera hubungi dokter.
d.      Membersihkan  kelamin bayi
1)      Membersihkan penis
2)      Usap daerah penis, sisi-sisinya, dan di bawah testikel dengan kapas basah.
3)      Lalu bersihkan daerah pangkal paha termasuk lipatannya.
4)      Bersihkan daerah anus dan perhatikan lipatan-lipatan di sekitarnya
5)      Cara membersihkan dengan gerakan memutar ke arah bawah, menghadap jari kaki si kecil
6)      Membersihkan vagina
7)      Gunakan baby wipe atau kapas steril yang telah direndam dalam air hangat.
8)      Angkat kaki bayi dengan memegangi pergelangan kakinya.
9)      Usap daerah vagina dengan perlahan,tetapi cukup kuat, dari arah depan ke belakang. Ini untuk mengurangi risiko berpindahnya kuman-kuman ke vagina.Bersihkan bibir luar vagina, dan pastikan anda membersihkan daerah lipatan di daerah paha bagian atas.
10)  Keringkan dengan tisu yang lembut dan tidak mudah sobek atau kain berrsih. Ambil tisu lagi dan bersihkan pula daerah pantat dan panggul
11)  Biarkan beberapa saat agar kering
12)  Hindari pemakaian tali. Pakaian popok bersih sesudahnya.
e.       Mamberikan ASI pada bayi. Manfaat pemberian ASI bagi bayi:
1)      ASI sebagai nutrisi terbaik
2)      Meningkatkan daya tahan tubuh.
3)      Meningkatkan kecerdasan
4)      Meningkatkan jalinan kasih sayang antara anda dan buah hati tercinta
Keuntungan memberi ASI bagi bayi :
1)      Pemberian ASI tak perlu menggunakan botol,sehingga ASI sangat steril tak mudah tercemar
2)      ASI mengandung antibodi terhadap penyakit yang disebabkan bakteri, virus ataupun jamur
3)      Dengan memberi ASI berarti anda tak perlu mengeluarkan dana untuk membeli susu kaleng atau memasak air untuk menyeduh susu
4)      Tak menyebabkan alergi
5)      Kaya vitamin, mineral & zat besi dan mudah untuk dicerna.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Periode bayi baru lahir atau neonatal adalah masa sejak lahir sampai usia 28 hari. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses berkelanjutan yang saling terkait di masa bayi dan kanak-kanak. Pertumbuhan merupakan peningkatan ukuran fisik. Perkembangan adalah rangkaian proses ketika bayi dan anak mengalami peningkatan berbagai keterampilan dan fungsi. Terdapat beberapa perubahan yang terjadi pada bayi baru lahir diantaranya yaitu: pertumbuhan fisik, sistem organ, perkembangan psikososial, motorik, sensorik, komunikasi dan bahasa serta sosial dan emosial. Masa neonatus terbagi menjadi dua bagian diantaranya yaitu: masa Portunate dan masa Neonate. Dalam tumbuh kembang Neonatus selalu melibatkan orang tua demi tercapainya perkembangan anak. Perilaku yang dapat dilakukan orang tua dengan tumbuh kembang neonatus diantaranya yaitu mencegah terjadinya infeksi pada bayi, menjaga kestabilan suhu bayi, merawat tali pusat serta memberikan asi pada bayi, dengan melakukan perilaku tersebut bayi dapat mengenal orang yang merawatnya dan dekat dengan orang tuanya.
Dalam memberikan asuhan keperawatan terdapat pengkajian fisik head to toe untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan saat lahir, selain itu pemeriksaan APGAR pun diperlukan. Terdapat 5 diagnosa keperawatan yang mungkin akan terjadi pada bayi baru lahir diantaranya yaitu: bersihan napas tidak efektif, resiko tinggi perubahan suhu tubuh, resiko tinggi infeksi, resiko tinggi trauma, dan perubahan nutrisi.








Kyle, Terri. (2014). Buku Ajar Keperawatan Pediatric Vol. 1 Ed 2. Jakarta: EGC
Kemenkes RI. (2012). Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta
Wong, Donna L. (2003). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatric Ed 4. Jakarta: EGC
Marni dan Kukuh rahardjo. (2012). Asuhan Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Setiyani, Astuti. (2016). Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Pra Sekolah. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI
Susilaningrum R dkk. (2013). Asuhan Keperawatan pada Bayi dan Anak (untuk Perawat dan Bidan) Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika
Whaley, L.F. and Wong, D.L. 1998: Essential of Pediatric Nursing, 4th. Edition.Philadelphia : CV. Mosby Co